Firman Tuhan di Efesus 6:4 [1] berkata, "Dan kamu bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." Dari Firman Tuhan ini kita dapat melihat bahwa membesarkan anak di dalam Tuhan bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah PERINTAH. Mengapa demikian ? Tuhan ingin agar semua manusia mengenal-Nya dan memunyai relasi yang akrab dan sehat dengan-Nya. Terlebih dari itu, Tuhan ingin agar manusia kembali menjadi umat-Nya—hidup dalam rahmat dan kehendak-Nya yang sempurna. Nah, di dalam bingkai inilah baru kita dapat mengerti mengapa Tuhan memberi perintah itu kepada kita, para orangtua. Ia rindu anak-anak kita mengenal-Nya dan memunyai relasi dengan-Nya, serta menjadi umat-Nya.
Apakah artinya membesarkan anak di dalam Tuhan? Setidaknya ada dua hal yang terlibat di dalam membesarkan anak di dalam Tuhan yaitu ASPEK PENGETAHUAN (tentang Tuhan) dan ASPEK PENGALAMAN (hidup bersama Tuhan).
Kendala Dalam Membesarkan Anak di dalam Tuhan :
Keselamatan adalah sebuah misteri. Bagaimanakah sampai seseorang percaya kepada Yesus Kristus adalah suatu misteri yang tak mudah dicerna. Pada akhirnya kita harus bertanya, "Apakah kita MEMILIH Tuhan atau DIPILIH Tuhan?" Mungkin kita tidak akan menemukan jawabannya secara mutlak namun kita mesti mengakui bahwa keselamatan adalah anugerah Tuhan. Peran kita, orangtua, dalam pemberian anugerah keselamatan ini adalah mengenalkan anak kepada Kristus SEBAIK-BAIKNYA dan SETEPAT-TEPATNYA.
Shalom,
Saya membaca transkrip T 187B tentang "Tatkala Orangtua Tidak Setuju" [6], yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana jika orangtua melarang anaknya pindah agama ke Kristen. Mereka adalah penganut agama Buddha yang sangat taat sehingga tidak suka. Dengan alasan tunggulah sampai anaknya mendapatkan jodoh dan tahu jodohnya beragama, jika ia Kristen maka anaknya barulah boleh pindah. Tapi selain melarang ke gereja dan berbicara dengan orang-orang Kristen atau dari gereja, mereka juga memaksa anaknya untuk bersembahyang kepada altar-altar dengan taat, membersihkan altar, sembahyang ke Vihara dan bahkan ingin anaknya mengunjungi Vihara jauh di luar kota untuk mandi mencuci nasib buruk. Mereka marah dan sangat benci ketika anak kadangkala menolak permintaan mereka yang berhubungan dengan itu. Walaupun sudah bersembahyang dan tidak ke gereja namun selalu ada hal yang kemudian digunakan untuk memarahi anaknya dengan sangat. Mereka merasa dikhianati dalam hal pindah keyakinan, merasa disakiti dan sangat membenci hal Kristen. Telah seringkali mereka mengusir anak untuk keluar dari rumah jika masih ingin menjadi Kristen dan tidak mau taat kepada agama orangtua. Selain hal ini mereka juga sebelumnya sering mendikte dan melarang calon pasangan yang ingin bersama anaknya dengan variasi alasan pada setiap calon. Saya ingin bertanya, apakah menghormati orangtua harus dengan menaati semua perintah mereka yang berkenaan dengan agamanya? Bagaimana jika anak memutuskan untuk keluar dari rumah (telah sering diancam oleh orangtua), yang kemungkinan bisa menyebabkan ibunya sakit? Sedangkan jika tetap tinggal, adalah patuh sepenuhnya kepada orangtua dan kembali ke agama semula sampai saatnya menikah sedangkan pasangan jodoh juga selalu dihalangi mereka sampai sesuai keinginan mereka. Tolong dijelaskan, terima kasih.
Shalom Saudari FH,
Terima kasih karena Anda sudah mendengarkan acara Telaga. Berikut ini adalah jawaban dari pertanyaan Saudari. Alkitab (Firman Tuhan) jelas mengajarkan bahwa sebagai anak, kita harus menghormati orangtua. Berikut ini adalah dua ayat Alkitab yang mengingatkan kita untuk hormat kepada orangtua. Keluaran 20:12 [7], "Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu". Efesus 6:2-3 [8], "Hormatilah ayahmu dan ibumu, ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi".
Jika orangtua yang belum percaya memaksa Anda untuk sembahyang di altar atau Vihara, cobalah menolaknya dengan perkataan yang sopan dan sikap yang halus. Tetaplah berusaha menunjukkan sikap hormat, walaupun pastinya Anda kesal karena dipaksa melakukan hal yang tidak sesuai dengan iman Kristen. Tunjukkanlah bahwa Anda adalah anak yang "u hau" (berbakti). Dan sebisa mungkin cobalah bersabar terhadap mereka dan berdoalah agar TUHAN memberi Saudari FH kasih dan kesabaran untuk menghadapi tuntutan dan perlakuan orangtua yang tidak menyenangkan, bahkan membuat Anda tertekan. Saudari FH juga harus mendoakan agar orangtua bisa berubah sehingga tidak memaksa anak-anaknya untuk sembahyang di altar dan Vihara.
TUHAN YESUS KRISTUS bisa mengubah hati siapa saja termasuk orangtua Anda. Jadi doakanlah dengan sungguh-sungguh agar TUHAN menguatkan dan memampukan Anda untuk tetap bertahan tinggal bersama orangtua. Minggat dari rumah atau pergi meninggalkan orangtua, tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan mungkin saja akan menyebabkan dan menambah masalah lainnya. Jika Saudari FH bertahan dan terus berusaha menunjukkan sikap penuh kasih, sabar dan hormat terhadap orangtua, tidak mustahil mereka akan "sadar" dan "tercelikkan" untuk melihat bahwa TUHAN YESUS yang Saudari FH percayai dan sembah sungguh adalah TUHAN yang hidup karena mereka melihat karya-NYA di dalam diri dan kehidupan Anda. Selain terus berdoa, semoga ayat dari Filipi 4:13 [9] bisa menjadi salah satu sumber kekuatan Saudari FH untuk tetap sabar menghadapi orangtua. "Segala perkara dapat kutanggung di dalam DIA yang memberi kekuatan kepadaku".
Catatan : Kami akan mengingat Saudari FH dalam doa. Ingatlah bahwa Anda tidak berjuang sendirian.
Seseorang berkata, bahwa luka yang terdalam hanya dapat dipulihkan dengan cinta yang tulus dan dalam. Tidak ada hal lain yang dapat menyentuh luka selain cinta. Akan tetapi tidak dapat disangkal bahwa ada kalanya orang mengatas namakan cinta dan membuat orang lain terluka karena apa yang ia lakukan. Kadang, sebagai orangtua pun saya melakukan kesalahan yang sama, melukai anak-anak di saat saya berupaya mewujudnyatakan cinta kasih saya melalui cara yang kurang tepat. Suatu kali salah seorang anak saya berkata, "Aku selalu salah, aku jahat!" Kalimat ini rasanya menusuk hati saya, membuat saya mau tidak mau menilik ke dalam diri saya, apa yang telah saya katakan kepadanya sehingga ia merasa demikian?
Sepanjang hari itu, barangkali ada banyak peringatan dan teguran yang saya berikan padanya. Di sisi lain, saya mengingat ada begitu banyak apresiasi dan pujian yang juga saya berikan. Tapi barangkali yang ia butuhkan bukan sekadar penilaian baik dan buruk dirinya, salah dan benarnya, melainkan hubungan yang hangat, lebih banyak waktu bersama, perhatian khusus tanpa terpecah konsentrasi karena mengurus banyak pekerjaan rumah yang tiada habisnya.
Sebagai seorang konselor, saya pun masih manusia, dan sebagai seorang mama saya masih banyak kurangnya. Ada begitu banyak pelajaran menanti dalam panggilan sebagai seorang mama. Anak-anak kecil yang polos dan jujur itu memberi saya banyak pelajaran berharga. Hari ini saya kembali belajar dan diingatkan bahwa:
Pada akhirnya, hanya anugerah Tuhan semata yang dapat membebat luka-luka hati yang tak terlihat. Sesungguhnya, kasih Bapa yang dalam tak berbatas dan tak bersyarat itulah yang akan mengobati setiap luka yang begitu dalam dan tak mampu kita jangkau.
Mazmur 34:19 [10], "TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya"."Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka" Mazmur 147:3 [11]
*) Ketua PKTK SidoarjoTahun 2022 telah tujuh bulan kita lewati dan pandemi Covid-19 masih belum menjadi endemi sehingga kita selalu diingatkan agar tetap waspada. Ada teman yang sekeluarga melakukan isolasi mandiri karena orangtua dan dua orang anaknya "terkena Covid-19" subvarian Omicron yang cepat sekali menular. Bila Tuhan mengizinkan semua ini terjadi, pasti ada maksud dan rencana-Nya yang terbaik dibalik itu semua. Marilah kita memanjatkan doa syukur dan permohonan di bawah ini yaitu :
Links
[1] https://alkitab.mobi/tb/Efe/6/4/
[2] https://alkitab.mobi/tb/Yoh/14/6/
[3] https://m.telaga.org/audio/peran_orang_tua_dalam_keselamatan_anak_1
[4] https://m.telaga.org/audio/peran_orang_tua_dalam_keselamatan_anak_2
[5] https://m.telaga.org/
[6] https://m.telaga.org/audio/tatkala_orangtua_tidak_setuju
[7] https://alkitab.mobi/tb/Kel/20/12/
[8] https://alkitab.mobi/tb/passage/efesus+6%3A2-3
[9] https://alkitab.mobi/tb/Flp/4/13/
[10] https://alkitab.mobi/tb/Mzm/34/19/
[11] https://alkitab.mobi/tb/Mzm/147/3/
[12] https://m.telaga.org/audio/membangun_respek_anak_terhadap_orangtua
[13] https://m.telaga.org/audio/kepercayaan_diri
[14] https://m.telaga.org/audio/pemberontakan_anak_terhadap_orangtua
[15] https://m.telaga.org/audio/kekecewaan_orangtua_terhadap_anak
[16] https://m.telaga.org/audio/orangtua_tunggal
[17] https://m.telaga.org/audio/anak_yang_diasuh_oleh_orangtua_tunggal
[18] https://m.telaga.org/audio/mengapa_anak_saya_tidak_percaya_diri
[19] https://m.telaga.org/audio/menanamkan_percaya_diri_pada_anak
[20] https://m.telaga.org/audio/membantu_anak_yang_takut_sekolah
[21] https://m.telaga.org/audio/menjadi_sahabat_buat_anak
[22] https://m.telaga.org/audio/ketegasan_dalam_mendidik_anak
[23] https://m.telaga.org/audio/anak_favorit
[24] https://m.telaga.org/audio/waktu_buat_anak
[25] https://m.telaga.org/audio/bermain_bersama_anak
[26] https://m.telaga.org/audio/yang_menyakitkan_anak
[27] https://m.telaga.org/audio/mengidolakan_anak
[28] https://m.telaga.org/audio/orangtua_over_protective
[29] https://m.telaga.org/audio/memberi_kepercayaan_kepada_anak
[30] https://m.telaga.org/audio/tertawa_dengan_anak
[31] https://m.telaga.org/audio/menangis_bersama_anak
[32] https://m.telaga.org/audio/anak_adopsi
[33] https://m.telaga.org/audio/masalah_anak_adopsi
[34] https://m.telaga.org/audio/tegas_pada_tempatnya
[35] https://m.telaga.org/audio/kepercayaan_pada_anak
[36] https://m.telaga.org/audio/tuntutan_tinggi_kasih_rendah
[37] https://m.telaga.org/audio/kekerasan_dan_tuntutan
[38] https://m.telaga.org/audio/persaingan_antar_anak
[39] https://m.telaga.org/audio/membangun_saling_tolong_antar_anak
[40] https://m.telaga.org/audio/tuhan_di_tengah_keluarga
[41] https://m.telaga.org/audio/mengasihi_anak_lebih_dari_tuhan
[42] https://m.telaga.org/audio/tuntutan_yang_menghimpit_anak_i
[43] https://m.telaga.org/audio/tuntutan_yang_menghimpit_anak_ii
[44] https://m.telaga.org/audio/konflik_orang_tua_dan_pemberontakan_anak
[45] https://m.telaga.org/audio/ketidakadilan_dan_pemberontakan_anak
[46] https://m.telaga.org/audio/iri_terhadap_saudara_sendiri
[47] https://m.telaga.org/audio/tidak_mau_mengalah
[48] https://m.telaga.org/audio/kepahitan_anak
[49] https://m.telaga.org/audio/ketika_anak_terlibat_masalah
[50] https://m.telaga.org/audio/kekerasan_terhadap_anak_1
[51] https://m.telaga.org/audio/kekerasan_terhadap_anak_2
[52] https://m.telaga.org/audio/kekerasan_terhadap_anak_3
[53] https://m.telaga.org/audio/kekerasan_terhadap_anak_4
[54] https://m.telaga.org/audio/kekerasan_terhadap_anak_5
[55] https://m.telaga.org/audio/peran_ayah_dalam_pembinaan_anak_0
[56] https://m.telaga.org/audio/perhatian_orangtua_terhadap_anak_0
[57] https://m.telaga.org/audio/dikasari_susah_dihalusi_susah_0
[58] https://m.telaga.org/audio/menanamkan_kebenaran_pada_anak_0
[59] https://m.telaga.org/audio/sikap_bijaksana_membesarkan_anak
[60] https://m.telaga.org/audio/mengapa_anak_saya_berbeda
[61] https://m.telaga.org/audio/anakku_autistik
[62] https://m.telaga.org/audio/anakku_bipolar
[63] https://m.telaga.org/audio/terpenting_bukan_membesarkan_melainkan_menguatkan_anak
[64] https://m.telaga.org/audio/mengapa_yang_buruk_malah_menempel_yang_baik_tidak
[65] https://m.telaga.org/audio/pola_asuh_merendahkan_anak
[66] https://m.telaga.org/audio/pola_asuh_mendewakan_anak
[67] https://m.telaga.org/audio/mendampingi_anak_di_tengah_pandemi