Sepuluh Faktor Penguat Pernikahan 1

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T586A
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 
Komitmen dalam pernikahan; pemahaman akan makna pernikahan.
Audio
MP3: 
Play Audio: 


Ringkasan

dpo. Pdt. Dr. Paul Gunadi

Salah satu institusi di dunia yang terus bertahan selama beribuan tahun adalah pernikahan. Meski berkali-kali diterpa badai sosial-budaya yang berusaha menghapuskan pernikahan, sampai hari ini pernikahan bukan saja masih ada tetapi juga tetap menjadi salah satu tujuan hidup manusia di dalam berelasi. Persoalannya adalah tidak semua pernikahan bertahan dan langgeng; sebagian gugur dan berakhir dengan perceraian. Marilah kita menilik sepuluh faktor yang membuat pernikahan kuat.

FAKTOR PERTAMA ADALAH KOMITMEN.
Mungkin dari semua faktor, inilah faktor terkuat. Pada hakikinya, seberapa kuat komitmen kita terhadap satu sama lain menentukan seberapa kuat pernikahan kita. Komitmen membuat kita tidak mencari jalan pintas atau jalan keluar tatkala kita mesti menghadapi tantangan di dalam pernikahan. Komitmen membuat kita berusaha memerbaiki pernikahan sebesar apa pun kesulitan yang dihadapi. Singkat kata, komitmen adalah tali sekaligus fondasi pernikahan. Dasar komitmen pernikahan bukan hanya janji yang kita buat kepada pasangan tetapi juga janji yang kita buat di hadapan Allah. Oleh karena kita berjanji di hadapan Allah, kita pun bertanggungjawab kepada-Nya. Namun ada satu lagi yang menjadi dasar komitmen yaitu keterlibatan Allah di dalam pernikahan, sebagaimana dikatakan oleh Yesus Putra Allah di Markus 10:9, "Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." Singkat kata, bukan saja Allah adalah saksi janji yang kita buat, Ia pun terlibat di dalam penyatuan kita di dalam pernikahan. Inilah dasar komitmen pernikahan.

FAKTOR KEDUA ADALAH PEMAHAMAN AKAN MAKNA PERNIKAHAN.
Makin dangkal dan berpusat pada diri sendiri pemahaman kita akan makna pernikahan, makin lemah pernikahan. Jadi, bila kita berpandangan bahwa pernikahan adalah penyuplai kebahagiaan semata, maka kita akan enggan menghadapi bagian tidak menyenangkan dari pernikahan. Jika kita beranggapan bahwa seharusnya cinta senantiasa membara di dalam pernikahan, maka begitu cinta meredup, kita pun meninggalkan pasangan. Pernikahan adalah ciptaan Tuhan; Ia menciptakan Hawa dan memberikannya kepada Adam untuk dijadikan istri. Itu sebab istilah "istri" telah digunakan sejak awal penciptaan manusia, sebagaimana dapat kita baca di Kejadian 2:24, "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging." Dari sini dapat kita lihat bahwa pernikahan bukanlah ciptaan manusia dan bukan pula sesuatu yang berkembang secara alamiah di dalam kehidupan manusia. Sama seperti Tuhan menciptakan manusia, Ia pun menciptakan pernikahan. Oleh karena Allah menciptakan pernikahan, maka sudah tentu Allah memunyai maksud dan rencana mengapa Ia menciptakan pernikahan. Mari kita lihat keduanya satu per satu. Maksud Tuhan menciptakan pernikahan adalah untuk mengutuhkan manusia. Kenyataan Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, ini menunjukkan bahwa pernikahan bukan saja menyatukan atau mengembalikan tulang rusuk (Hawa) kedalam tubuh (Adam) tetapi juga mengutuhkan keduanya. Kembalinya Hawa sebagai tulang rusuk kedalam tubuh Adam membuatnya utuh—kembali ketempatnya—sekaligus membuat Adam utuh—menerima tulang rusuknya kembali. Inilah maksud Tuhan di balik pernikahan. Tuhan pun memunyai rencana dengan pernikahan. Di akhir ulasannya tentang peran dan tugas suami dan istri dalam pernikahan di Efesus 5:31-32, Rasul Paulus menyimpulkan, "Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat". Pernikahan direncanakan oleh Allah untuk menjadi perlambangan kesatuan dan penyatuan Kristus dan jemaat.