Seni Memberi

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T219B
Nara Sumber: 
Bp. Heman Elia, M.Psi.
Abstrak: 

Dikatakan bahwa memberi lebih baik daripada menerima. Kita cenderung menuntut orang lain untuk memberi, tetapi sering kita sendiri enggan untuk memberi. Ada beberapa sebab kenapa orang susah untuk memberi, salah satunya ialah karena kita memiliki kecenderungan mementingkan diri.

Audio
MP3: 
Play Audio: 
Ringkasan

Dikatakan bahwa memberi lebih baik daripada menerima. Tetapi dalam kenyataannya, ada beberapa persoalan yang membuat terhambat ketika ingin memberi sesuatu kepada orang lain.

Beberapa manfaat dari memberi :

Sebetulnya ada banyak manfaat ketika kita memberi pada orang lain. Kita mempunyai Tuhan yang murah hati dan suka memberi. Ketika kita juga memberi, kita percaya Tuhan menyukainya. Hidup kita pun menjadi lebih bermakna. Karena kita diciptakan bukan sekadar hidup buat diri kita sendiri.

Manfaat lain adalah dalam hal relasi. Orang yang memberi dengan tulus akan mempunyai relasi yang lebih baik dengan orang lain juga.

Kita cenderung menuntut orang lain untuk memberi, tetapi sering kita sendiri enggan untuk memberi. Ada beberapa sebab kenapa orang susah untuk memberi, urutannya adalah sebagai berikut :

Kita ini manusia berdosa. Kita yang percaya kepada Kristus sudah ditebus dan hutang dosa sudah dihapus. Tetapi kecenderungan berdosa masih ada dalam diri kita. Kecenderungan kita adalah mementingkan diri. Terus terang kita tidak rela melihat orang lain lebih beruntung, lebih menikmati hidup dan lebih baik dari kita. Padahal memberi menuntut pengorbanan dari kita. Sering memberi itu juga berarti mengorbankan hak yang kita miliki. Saya berhak atas gaji saya sepenuhnya karena hasil kerja saya. Memberi berarti mengorbankan hak atas penghasilan saya demi orang lain. Nah, saya tidak suka itu karena saya lebih terpaku pada hak dan kepentingan diri saya sendiri.

Contohnya adalah Yesus sendiri yang telah mengorbankan nyawanya untuk kita, ada pelajaran yang bisa kita petik dari tindakan Yesus, yaitu :

Tindakan Tuhan Yesus yang harus kita pelajari adalah pemberian itu didasarkan atas kasih. Pemberian yang tidak didasarkan kasih, tetap bersifat mementingkan diri.

Memberi juga kadang-kadang berarti ditujukan kepada orang-orang yang bertentangan dengan kita. Yaitu termasuk kepada orang-orang yang tidak menyukai kita.

Ketika pemberian kita ditolak, bahkan dibalas dengan kejahatan, kita perlu mengingat bahwa ini adalah bagian dari batu uji untuk mengasihi Tuhan dan sesama kita. Kasih kita menjadi nyata ketika kita tidak menjadi marah dan membalas kejahatan dengan kejahatan pula.

Firman Tuhan : "Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya." (2 Korintus 8:9)