Pertama, game itu menyenangkan. Pada dasarnya memang diciptakan untuk bermain dan membuat hati senang. Biasanya berjenjang, ada level kesulitannya dari yang tingkat paling mudah hingga yang paling sukar. Jika dimulai dari yang sukar, umumnya orang akan enggan memainkannya. Dari yang paling mudah ini, pemain game belajar dan mulai menikmati permainan baru ini. Perasaan senang muncul saat pemain berhasil memenangkan level pertama. Muncullah, rasa tertantang untuk naik ke level kedua dan berupaya untuk bisa memenangkannya. Di sinilah awal mula munculnya jerat game. Rasa penasaran terbangkitkan, rasa puas muncul saat menang, lalu tertantang untuk memenangkan level di atasnya, kemudian menang dan puas, mengantar pada dorongan untuk meningkatkan level tantangan berikutnya, demikian seterusnya. Maka, pemain bisa sampai lupa waktu.
Misal game gelembung yang merupakan game mudah. Menembak yang warnanya sama. Kalau gagal, tinggal pencet mulai lagi. Membuat hati penasaran: gagal, penasaran, ulangi lagi, gagal, penasaran, ulangi lagi. Salah satu hal yang bikin ketagihan adalah siklus ini. Selama tidak benar-benar mengalahkan, tidak mau berhenti. Tapi ketika sudah mengalahkan, tertantang untuk menghadapi level kesulitan berikutnya.
Kedua, game masa sekarang mengembangkan daya pikat bukan hanya dengan level kesulitannya yang berjenjang, tapi juga dengan varian-variannya. Misalnya, jika dulu karakternya cuma 1, sekarang ada beberapa karakter pemain dengan sifat kepribadian dan kemampuannya. Misalnya, jika berhasil mengumpulkan poin dan menyelesaikan misi-misi tertentu, pemain akan mendapatkan penghargaan-penghargaan melalui varian itu. Bisa berupa karakter baru, senjata baru, atau dunia baru.
Ketiga, game masa sekarang bertambah daya pikat dan jeratnya karena telah di-online-kan atau didaringkan. (daring/ dalam jaringan=on line) sehingga memungkinkan bertemunya para pemain dari belahan dunia lain. Keasyikannya bertambah dengan adanya suasana kompetisi dan intrik-intrik yang berkembang: contohnya, demi kepentingan tertentu, beberapa pemain menjadi berteman.
Dapat disimpulkan, akhirnya game menjadi dunia baru bagi para pemain game. Dalam kehidupan nyata, ketika kita gagal, kita harus menerima kegagalan kita. Tapi dalam dunia game, kalau gagal, kita bisa restart lagi. Kita bisa perbaiki kegagalan. Maka muncullah kesenjangan antara dunia nyata dengan dunia game. Ketika kita gagal di dunia nyata, kita masih mungkin berhasil di dunia game dan seperti menggantikan kegagalan di dunia nyata. Tanpa disadari bermain game telah menjadi mekanisme pelarian, yakni lari dari emosi-emosi negatif dan kehampaan kita.
Keempat, jika game-game masa lalu ada tamatnya, game-game masa sekarang adalah ‘endless game’ alias game yang tidak ada tamatnya. Maka efek jeratnya menjadi makin mengerikan. Misalnya ada seorang rekan ibu usia 50-an main game sampai level 400-an, sudah berapa jam dibuang untuk game.
Kelima, game di masa sekarang memang dirancang untuk membuat orang ketagihan. Kisah pembuat game di Amerika yang tinggal sekamar dengan mahasiswa dari Indonesia. Game yang dinilai sukses oleh produsen adalah game yang bikin ketagihan.
Pesan Firman Tuhan dari Matius 26:41 [1], "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah"
Kriteria Kecanduan Game yang telah dibahas adalah :
Solusi Kecanduan Game :
Kasus seorang psikiater anak di Korea Selatan yang mengirim anaknya studi ke Amerika Selatan. Untuk di Indonesia, perlu rawat inap, mengalami fase transisi, akses untuk bermain game sama sekali tidak ada. Penggantinya: berolah raga, bermain catur, mengembangkan hobi yang baru, setelah sekian bulan setelah muncul kebiasaan yang baru, setelah itu lebih siap untuk kembali ke kehidupan biasanya. Orangtua perlu mendukung secara aktif, misalnya dikirim ke desa terpencil selama 10 hari atau selama 1 bulan, diisi dengan aktifitas yang sehat, kerja bakti, kerja sosial untuk orang lain dan lain-lain. Ini merupakan langkah ekstrem tapi ini sehat. Orangtua berperan penting dalam membentuk kebiasaan anaknya menemukan makna hidupnya, menanamkan nilai-nilai, memberi dirinya (menanamkan relasi yang hangat dengan anaknya). Relasi yang hangat bisa mengarahkan anak dengan lebih harmonis.
Firman Tuhan dari Amsal 3:26 [2], "Karena Tuhanlah yang akan menjadi sandaranmu dan akan menghindarkan kakimu dari jerat". Keterjeratan selalu akan ada, tapi ketika kita menempatkan Tuhan sebagai sentral, pusat hidup kita, gaya hidup yang sesuai dengan Firman-Nya kita kembangkan. Berelasi, berkarya, memberi manfaat untuk orang lain secara sehat. Ada waktu untuk bermain, ada waktu untuk bekerja, ada waktu untuk menyendiri, ada waktu untuk bersama dengan orang lain. Dengan cara kita menata hidup sesuai dengan desain Tuhan, kita bisa terhindar atau lepas dari jerat kecanduan game.
Ringkasan T461 A [3]+B [4]
Oleh: Ev. Sindunata Kurniawan, M.K., M.Phil.
Simak judul-judul kategori "PENDIDIKAN" lainnya di www.telaga.org [5]
PERTANYAAN :
Saya ADR punya pasangan, kami sudah berhubungan di luar nikah dan sekarang sudah hamil serta melahirkan. Awalnya saya ragu itu anak siapa, itulah yang mencegah saya untuk menikah, tapi sekarang sudah lahir, saya jadi sayang dan tidak peduli itu anak siapa. Sampai sekarang saya masih berhubungan dengan pasangan saya. Yang menjadi masalah adalah orangtua masing-masing tidak setuju dengan hubungan kami. Apa yang harus kami lakukan? Kami sudah sepakat menikah tapi kedua pihak orangtua tidak setuju.
Salam: ADR
JAWABAN :
Terima kasih atas keterbukaan dan kepercayaannya kepada Telaga. Apa yang sudah terjadi dalam kasus yang dihadapi Saudara ADR dan pasangan memang tidak dapat diubah lagi. Seyogyanya Saudara ADR dan pasangan melangsungkan pernikahan terlebih dahulu, baru melakukan hubungan suami istri. Namun nasi memang telah menjadi bubur dan kini yang dapat dilakukan adalah berfokus pada masa depan, terutama masa depan Saudara ADR, pasangan dan anak.
Satu hal yang harus dipertimbangkan adalah bahwa setiap keputusan yang Saudara ambil ada konsekuensinya. Apabila Saudara dan pasangan putuskan tidak menikah karena tidak disetujui orangtua, konsekuensinya adalah pasangan dan anak tidak memiliki status hukum dan sosial yang jelas di tengah masyarakat. Tentu ini akan memersulit semua pihak dalam banyak aspek kehidupan dan yang paling sulit situasinya ada pada posisi pasangan dan anak. Sebaliknya jika Saudara dan pasangan memutuskan untuk tetap menikah, konsekuensi buruk yang mungkin terjadi adalah penolakan dari keluarga kedua belah pihak. Relasi dengan orangtua kedua belah pihak mungkin akan merenggang dan menjauh. Dukungan dan sokongan dari keluarga baik secara moril dan materiil khususnya dari orangtua mungkin akan sulit diperoleh lagi di kemudian hari. Menyoroti besarnya rasa kasih sayang Saudara pada pasangan dan anak, tampaknya pilihan terbaik bagi Saudara adalah tetap melangsungkan pernikahan dengan pasangan. Pilihan ini menunjukkan sikap tanggungjawab dan kepedulian Saudara yang besar bagi pasangan dan anak. Di sisi lain, pilihan ini akan menolong pasangan dan anak untuk menghadapi masa depan yang lebih baik. Terkait penolakan keluarga, Saudara dan pasangan dapat memerjuangkan dalam doa dan daya upaya untuk terus menunjukkan hormat dan bakti pada orangtua. Mudah-mudahan dengan semua keikhlasan dan ketulusan Saudara dan pasangan, suatu hari kelak orangtua akan membuka pintu maaf dan penerimaan bagi Saudara beserta pasangan dan anak.
Demikian tanggapan kami. Mudah-mudahan bisa membantu meringankan beban pergumulan Saudara. Tuhan Yesus memberkati !!
Salam: Hendra
Beberapa judul kategori PENDIDIKAN yang bisa dibaca atau didengar melalui www.telaga.org [5] antara lain :
Diliput oleh: Jocelyn Gabriella Limnord, S.Psi. *)
Pada tanggal 4 Juni 2022, Tunas Kehidupan, sebuah divisi pembinaan iman anak dan perkembangan anak, kembali mengadakan edukasi melalui IG Live. Pada kesempatan kali ini, Tunas Kehidupan membahas mengenai topik "Mengembangkan Bakat & Minat Anak Sejak Dini" bersama kak Grace Pangemanan, seorang konselor di sebuah sekolah, yang memiliki fokus pelayanan di bidang parenting, dan saudari Gaby Limnord sebagai moderator. Sesi sharing malam hari itu diawali dengan cerita mengenai harapan orangtua pada umumnya, yaitu berharap anak-anak menjadi pribadi yang memiliki prestasi yang baik, sukses dan memiliki karier yang baik. Hal ini mungkin dapat terlihat dari harapan orangtua agar nilai sekolah anak selalu yang tertinggi dibandingkan teman-temannya, atau menjadi orang yang terpandang dan dikenal orang di lingkungan kerjanya. Kak Grace Pangemanan menyampaikan bahwa sudah seharusnya menjadi tanggungjawab orangtua untuk mengarahkan dan membimbing anak dalam hal ini, namun seringkali pertanyaan terbesarnya adalah, "Bagaimana caranya?" karena seringkali didapati bahwa orangtua tidak tahu apa yang tidak diketahuinya, sehingga belum dapat melangkah lebih lanjut.
Langkah pertama yang dapat dilakukan oleh orangtua adalah menyadari bahwa Tuhan sudah memberikan sesuatu yang unik dalam diri setiap anak. Hal ini dapat dimulai dengan melakukan pengamatan mengenai pengetahuan, keterampilan, kesukaan, kelebihan dan keterbatasan, kepribadian diri anak dalam kehidupan sehari-hari. Kak Grace melanjutkan dengan menjelaskan definisi dari potensi, bakat dan minat. Secara garis besar, potensi adalah kemampuan maksimal yang dapat dicapai seseorang, sedangkan bakat adalah keterampilan tertentu yang sifatnya spesifik, dan minat merupakan kesukaan yang menjadi dorongan untuk melakukan sesuatu. Diperlukan kesinambungan dalam ketiga hal ini agar seseorang dapat memaksimalkan apa yang Tuhan sudah titipkan dalam diri anak. Prinsip dalam observasi anak tetap dapat dilakukan pada anak-anak remaja, seperti melihat teman sebayanya seperti apa, kesukaan teman-temannya apa serta topik pembicaraan yang sering diangkat ketika sedang bersama.
Sebagai contoh, seseorang mungkin memiliki bakat dalam bermain biola misalnya, namun belum memiliki minat, sehingga ia belum dapat mencapai potensinya secara maksimal. Namun, apabila seorang anak hanya memiliki minat tetapi kurang berbakat, orangtua dapat tetap mendorong anak untuk mengasah keterampilan tersebut, sehingga dapat menjadi maksimal. Sebaliknya, bisa jadi seorang anak memiliki bakat dalam keterampilan tertentu, namun tidak memiliki minat. Dalam hal ini, orangtua dapat menggali hal-hal apa yang membuat anak merasa tidak menyukai aktivitas tersebut. Contohnya, ada seorang anak yang berbakat menyanyi tidak suka untuk berlatih, sehingga orangtua mencoba untuk menanyakan alasannya. Ternyata anak menjawab, "Aku tidak suka latihan sendirian, aku lihat teman-teman lain bermain, tapi aku latihan sendiri. Aku ngga suka." Dengan demikian, orang tua dapat mencari solusi untuk mengatasi hal yang tidak disukai oleh anak, dan bakat anak dapat berkembang.
Pada bagian akhir IG Live ini, moderator mencari/menarik benang merah antara harapan orang tua agar anak menjadi sukses dengan proses mencari bakat dan minat anak, dengan menanyakan, "Bagaimana kaitannya antara kedua hal ini?" Kak Grace menyampaikan bahwa dalam perjalanan hidup seseorang, semua hal yang terjadi dalam hidup ini merupakan titipan dan rencana Tuhan sehingga akhirnya semua hal ini dapat saling berkesinambungan untuk memenuhi panggilan Tuhan dalam hidup seseorang. Tugas kita adalah untuk menjadi peka dan bertanya pada Tuhan apakah rencanaTuhan di balik setiap keterampilan, minat, pengalaman dan orang-orang yang dijumpai. Hal ini diperkuat dengan kalimat penutup bahwa kesuksesan dengan standar dunia tidak menjamin kebahagiaan seseorang. "Hanya ketika seseorang menghidupi apa yang menjadi panggilan Tuhan dalam hidupnyalah, ia akan merasakan kebahagiaan yang tidak dapat digantikan dengan uang."
*) Tim media dan salah seorang ‘volunteer’ konselor remaja di PKTK Sidoarjo
Saya sejak kecil tinggal dengan ayah, ibu, ketiga saudara dan kakek. Pola pendidikan yang diterapkan oleh ayah saya adalah pendidikan militer yang keras, disiplin dan cenderung kasar. Saya menilai ayah saya sebagai ayah yang otoriter, yang memberlakukan kekerasan dalam setiap disiplin yang diterapkannya. Semua anak-anaknya mengalami ketakutan setiap kali berhadapan dengan ayah, apalagi bila kami melakukan kesalahan. Mulai dari saya kecil dan juga semua kakak-kakak saya mendapatkan perlakuan yang sama. Banyak pengalaman kekerasan yang saya alami sejak saya kecil. Kalau boleh dibilang saat-saat itulah saat krisis terjadi dalam masa kecil saya.
Salah satu peristiwa yang saya ingat dengan jelas adalah saat dimana saya melihat ayah saya dengan emosinya menyuruh kakak saya yang ketiga mengambil pisau dan meletakkan mata pisau tersebut tepat di depan mata saya. Waktu itu saya masih kelas lima SD, umur sepuluh tahun. Kakak saya yang pertama berumur empat belas tahun, diikuti kakak kedua berumur tiga belas tahun, dan kakak saya ketiga berumur dua belas tahun saat peristiwa yang akan saya ceritakan ini terjadi. Saya sedang bermain bersama dengan kakak kedua saya. Mainan yang kami mainkan dalam bahasa jawa disebut "tulup" terbuat dari batang jagung, diisi dengan kacang hijau dan ditiup untuk mengenai sasaran. Dengan senangnya kami bermain dan tanpa sengaja, batang "tulup" yang saya pegang mengenai ambang pintu dan kembali mengenai bola mata kanan saya. Karena saya berlari dengan kencangnya, maka batang tersebut mengenai mata dan melukai mata saya dengan cukup parah.
Sempat beberapa saat saya tidak dapat melihat semua yang ada di sekeliling saya. Semuanya begitu gelap. Rasa mual dan kehilangan keseimbangan begitu saya rasakan, sampai hampir pingsan. Terpikir dalam otak saya bahwa saya akan kehilangan bola mata saya yang sebelah kanan, atau paling tidak saya akan buta sebelah. Tidak ada yang mengetahui peristiwa tersebut kecuali saya dan kakak saya yang kedua. Mengingat bahwa ayah saya adalah pribadi yang keras, kami langsung mengalami ketakutan dengan peristiwa yang saya alami. Kami tidak berani menceritakan hal tersebut kepada siapa pun. Saya berusaha menutupi bagian mata saya yang sebelah kanan setelah saya merasa lebih baik.
Ibu saya adalah orang berikutnya yang mengetahui peristiwa tersebut. Tanpa sengaja ibu melihat luka di mata saya, saat sedang menyuruh saya melakukan sesuatu untuknya. Saya lebih berani berhadapan dengan ibu dibandingkan ayah. Dengan pandangan yang kabur saya mendatangi ibu dan berusaha menutupi mata yang mengalami luka. Tetapi akhirnya ibu pun mengetahui luka yang cukup parah di mata kanan saya. Awalnya ibu cukup kaget dan sempat marah melihat keadaan saya. Namun tidak lama ibu menawarkan pertolongan kepada saya, agar saya tidak mengalami luka yang lebih serius. Kemudian semua orang yang ada di rumah, kecuali ayah, mengetahui luka di mata saya. Semuanya merasa ketakutan, kakak saya yang kedua benar-benar takut karena luka tersebut akibat bermain dengannya. Semua alat permainan kami sembunyikan dan ada yang langsung dibuang, dengan harapan bahwa ayah tidak terlalu marah melihat keadaan saya nantinya.
Sore hari tiba giliran ayah pulang dari kantor. Ayah kerja sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil), sedang ibu tidak bekerja. Belum sampai masuk ke dalam rumah, ayah sudah telanjur melihat mata saya, karena saat itu saya sedang ada di halaman rumah melihat anak-anak tetangga yang sedang bermain. Ayah langsung menemui saya dan bertanya penyebab luka pada mata kanan saya. Dengan terus terang saya ceritakan kejadian sebenarnya yang sudah saya alami. Bukannya mendapatkan simpati atau rasa sayang dari ayah, ayah saya langsung melayangkan tamparan tangan kanannya di pipi saya. Tamparan yang cukup keras, sehingga membuat saya menangis karena kesakitan akibat tamparan tersebut. Tidak cukup begitu saja, ayah langsung memanggil kakak ketiga saya dan meminta untuk diambilkan pisau dapur. Kemudian ayah saya memegang saya dengan begitu kuat, mendekatkan mata pisau sampai begitu dekat dengan bola mata kanan saya. Dengan marahnya ayah mengatakan "biar dicungkil saja, biar tidak usah memiliki mata sekalian." Menghadapi hal tersebut, saya begitu takut. Takut dengan ayah saya, juga takut kehilangan bola mata saya. Memang ayah tidak meneruskan niatnya, akan tetapi reaksi dari ayah dan melihat ekspresi raut mukanya begitu membekas dan terus teringat dalam benak saya. Berbeda dengan ibu yang langsung memberikan pertolongan, ayah saya membiarkan luka tersebut begitu saja.
Sejak peristiwa tersebut, rasa takut saya semakin besar terhadap ayah saya. Setiap kali melihat ayah, saya melihatnya dengan penuh ketakutan. Kepatuhan saya terhadap ayah, rasa hormat terhadap ayah, semuanya didasari rasa takut yang begitu besar terhadap ayah. Saya berpikir bahwa ketiga saudara saya yang lain pun merasakan hal yang serupa. Kami melakukan tugas yang diberikan di rumah, menjadi siswa yang baik di sekolah, bukan karena kesadaran dari dalam diri untuk melakukannya, melainkan hanya karena rasa takut yang demikian besar terhadap ayah. Sekali lagi hanya ibu yang memberikan petolongan. Karena itu, maka saya merasa begitu dekat dengan ibu. Semua hal, semua persoalan yang saya hadapi selalu saya menceritakannya kepada ibu, tidak kepada ayah. Saya ingat dengan baik bahwa saya bersama dengan ketiga kakak saya lebih senang untuk menghabiskan waktu di rumah bapak pendeta dibandingkan untuk ada di rumah sendiri. Hampir dapat dipastikan, apabila kami tidak berada di rumah pada sore sampai malam hari, maka kami berada di kediaman bapak pendeta. Semuanya karena kami merasa ketakutan apabila ada di rumah dan lebih merasa tenang berada di tempat bapak pendeta.
Seingat saya, tidak ada pelayanan pastoral yang dilakukan gereja terhadap saya maupun juga orangtua, hanya sekadar untuk memberitahukan bahwa pola didikan mereka adalah salah. Saya tidak tahu dengan pasti mengapa saya tidak mendapatkan pelayanan pastoral seperti halnya dilakukan kepada orang dewasa pada umumnya. Kemungkinannya adalah bahwa saya masih kecil dan akan melupakan peristiwa yang telah terjadi dalam hidup saya. Tetapi kenyataannya justru sebaliknya. Saya tidak dapat melupakan hal tersebut. Saya ingat bahwa ada kepahitan dalam diri saya terhadap ayah dan saya menyadarinya setelah tujuh tahun berikutnya. Pada waktu saya membereskan segala sesuatu di hadapan Tuhan, semua trauma dan peristiwa yang saya terima dari ayah kembali teringat dalam diri saya. Ternyata semuanya itu tidak hilang begitu saja.
Kemungkinan yang lain adalah bahwa peristiwa tersebut tidak dianggap sebagai peristiwa yang cukup penting untuk diperhatikan, sehingga tidak diperlukan pelayanan lainnya yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya. Ada kalanya seorang dewasa menganggap bahwa pendidikan yang diterima oleh anak-anak adalah bagian dari disiplin yang harus diterima dari orangtua. Ada kalanya juga dianggap bahwa pendisiplinan terjadi karena kesalahan atau kelalaian dari anak itu sendiri. Dalam kaitan dengan peristiwa yang saya alami, maka luka dibagian mata kanan saya adalah sesuatu yang wajar akibat kesalahan saya sendiri. Sehingga apa yang ayah lakukan terhadap saya juga adalah sesuatu yang wajar sebagai bentuk disiplin dari orangtua terhadap anaknya. Pertanyaannya adalah apakah harus demikian? Apakah tidak ada bentuk pendisiplinan yang lain yang lebih memadai kepada anak yang masih berumur sepuluh tahun?
Saya berpikir saat ini, bahwa banyak orangtua pada zaman dahulu yang terbatas dalam pemahaman mereka mengenai pola asuh dan pola pendidikan terhadap anak. Bahkan pendeta atau pelayan Tuhan yang lain pun tidak mendapatkan bekal yang memadai untuk melakukan pelayanan pastoral berkaitan dengan anak. Hal ini dapat juga menjadi salah satu alasan mengapa peristiwa yang saya alami pun dianggap biasa. Semakin berkembangnya informasi dan program-program pendidikan kepada orang tua maupun pelayan Tuhan, maka pelayanan pastoral kepada anak atau yang berkaitan dengan kebutuhan anak dapat terpenuhi.
Seandainya ayah mendapatkan pemahaman yang memadai berkaitan dengan pendidikan kepada anak, pasti pola pendidikannya terhadap anak-anaknya akan berbeda. Sudah pasti peristiwa yang saya alami membuat kedekatan yang berbeda dalam keluarga. Ayah lebih banyak sendiri, karena anak-anaknya lebih dekat kepada ibu. Hal ini menimbulkan kecemburuan dalam diri ayah, sehingga beberapa kali ayah harus menyampaikan kepada kami bahwa karena kami hanya mau membicarakan semua persoalan kepada ibu, maka segala sesuatu yang menjadi kebutuhan kami juga dapat diminta kepada ibu. Ayah seolah tidak mau peduli dengan kebutuhan sekolah dan lain sebagainya, sehingga kami perlu mencairkan suasana keluarga dengan musyawarah dalam keluarga. Hal ini terjadi beberapa kali dalam keluarga kami.
Semakin saya belajar, semakin saya menyadari betapa pentingnya pelayanan-pelayanan yang saya lakukan terhadap anak-anak. Penting sekali memberitahukan kepada orangtua-orangtua yang lain berkaitan dengan pola asuh dan pola pendidikan yang baik, yang benar sesuai dengan firman Tuhan. Secara pribadi, apa yang telah saya alami dalam masa kanak-kanak saya, saya tidak ingin hal tersebut terjadi dalam diri anak saya. Oleh karena itu, sebagai pelayan Tuhan, saya berusaha belajar untuk memberikan pelayanan pastoral yang memadai kepada semua anggota jemaat, termasuk di dalamnya anak-anak. Memerlakukan semua dengan porsi yang sama, tanpa membeda-bedakan umur dari seseorang yang dilayani. Penulis Amsal mengatakan: "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu" (Amsal 22:6 [20]). Untuk itu pemahaman seputar pelayanan kepada anak, pendampingan kepada orangtua sangat diperlukan demi keberhasilan pelayanan kepada anak-anak. Peran ini dapat kita lakukan sekalipun usia kita sudah lanjut, karena sebagai kakek atau nenek kita dapat memberikan nasihat kepada anak-anak kita sebagai orangtua untuk dapat mendidik anak-anak mereka, yaitu cucu-cucu kita, dengan benar sesuai firman Tuhan, sehingga mereka dapat bertumbuh menjadi anak-anak yang mencintai Tuhan.
*) Salah seorang konselor PKTK Sidoarjo yang berdomisili di Malang
POKOK DOA (BTK Juni 2022)Links
[1] https://alkitab.mobi/ayt/passage/Mat+26:41
[2] https://alkitab.mobi/ayt/passage/Ams+3:26
[3] https://m.telaga.org/audio/pikat_dan_jerat_game_permainan_elektronik
[4] https://m.telaga.org/audio/solusi_kecanduan_game
[5] http://www.telaga.org
[6] https://m.telaga.org/audio/bagaimana_menghadapi_anak_yang_cerdik
[7] https://m.telaga.org/audio/mengajar_anak_menggunakan_uang
[8] https://m.telaga.org/audio/masalah_anak_belajar_disekolah
[9] https://m.telaga.org/audio/anak_lari_dari_kenyataan
[10] https://m.telaga.org/audio/tatkala_anak_sukar_mengingat
[11] https://m.telaga.org/audio/menangani_anak_sulit_belajar
[12] https://m.telaga.org/audio/anak_dan_kemarahan
[13] https://m.telaga.org/audio/diolok_olok_teman
[14] https://m.telaga.org/audio/mengasihi_anak_dengan_benar
[15] https://m.telaga.org/audio/mendisiplin_anak_dengan_benar
[16] https://m.telaga.org/audio/perlunyamanfaat_anak_bermain
[17] https://m.telaga.org/audio/kebiasaan_berawal_dari_kecil
[18] https://m.telaga.org/audio/mengasuh_anak_kembar
[19] https://m.telaga.org/audio/kesalahan_dalam_mendisiplin_anak
[20] https://alkitab.mobi/ayt/passage/Ams+22:6
[21] https://m.telaga.org/jenis_bahan/berita_telaga