Pengantin Baru dan Tantangannya

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T494A
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 
Realitas memperlihatkan bahwa keindahan upacara pernikahan tidak selalu diikuti oleh keindahan hidup pernikahan. Begitu kita masuk ke dalam hidup pernikahan, kita harus menghadapi pelbagai tantangan. Jika berhasil mengatasinya, kita akan dapat mencici keindahan hidup pernikahan. Sebaliknya, bila gagal, kita akan harus hidup dalam kepedihan. Berikut akan dipaparkan beberapa tantangan yang dihadapi pengantin baru dan bagaimana menghadapinya.
Audio
MP3: 
Play Audio: 
Ringkasan

Salah satu hari terindah dalam hidup adalah hari pernikahan. Tetapi, realitas memperlihatkan bahwa keindahan upacara pernikahan tidak selalu diikuti oleh keindahan hidup pernikahan. Begitu kita masuk ke dalam hidup pernikahan, kita harus menghadapi pelbagai tantangan. Jika kita berhasil mengatasinya, kita akan dapat mencipi keindahan hidup pernikahan. Sebaliknya, bila kita gagal, kita akan terus hidup dalam kepedihan. Berikut akan dipaparkan beberapa tantangan yang dihadapi pengantin baru dan bagaimana menghadapinya.

  1. PERBEDAAN GAYA HIDUP.
    Mulai dari jam berapa tidur sampai jam berapa makan, semua harus disesuaikan. Sudah tentu ada gaya hidup yang mudah diselaraskan, tetapi ada pula gaya hidup yang sulit diserasikan. Misalkan, kita terbiasa mengkomunikasikan segalanya dengan orang di sekitar tetapi pasangan tidak. Mau ke mana dan kapan kita kembali semua kita sampaikan kepada pasangan. Kita pun berharap ia juga akan melakukan hal yang sama, tetapi ternyata tidak. Masalahnya adalah, begitu kita memintanya untuk memberitahukan kita—ke mana ia pergi dan kapan ia kembali—ia marah karena merasa diperlakukan seperti anak kecil. Walau kita berusaha menjelaskan bahwa kita tidak bermaksud memperlakukannya seperti anak kecil dan bahwa buat kita, sudah selayaknyalah kita tahu ke mana ia pergi dan kapan ia kembali, ia tetap tidak menerima. Ia menolak meluluskan permintaan kita sebab baginya, permintaan itu menandakan kita tidak memercayainya, di samping membuatnya merasa seperti anak kecil. Masalah seperti ini umum muncul di awal pernikahan tetapi persoalan ini harus diselesaikan sebab bila tidak, ini akan menjadi duri dalam daging. Dan, setiap persoalan yang tidak terselesaikan akan menambah banyaknya duri. Nah, berkaitan dengan perbedaan gaya hidup, penting bagi kita untuk menempatkan masalah sebagai perbedaan gaya hidup. Tidak lebih, tidak kurang. Di dalam pembicaraan, kita harus saling mengingatkan bahwa masalah ini adalah masalah perbedaan gaya hidup, bukan masalah ketidakpercayaan atau pelecehan harga diri. Jadi, yang dibutuhkan adalah penyesuaian gaya hidup. Itu saja. Di dalam contoh yang baru saja diberikan, kita menyelesaikan perbedaan gaya hidup itu dengan cara meminta pasangan untuk menyesuaikan dirinya dengan gaya hidup kita sebab kebetulan, persoalan ini penting bagi kita. Ketidaktahuan ke mana ia pergi serta kapan ia pulang benar-benar mengganggu kita, sampai-sampai kita tidak dapat melakukan tugas lainnya dengan tenang. Yakinkan pasangan bahwa di kesempatan lain, bila terjadi perbedaan gaya hidup, kita akan menyesuaikan diri. Ini penting untuk disampaikan agar ia mengerti bahwa tujuan kita bukanlah untuk mendominasinya dan bahwa kita bukanlah orang yang mau menang sendiri. Singkat kata, dalam menyelesaikan perbedaan gaya hidup, ada dua faktor yang harus dipertimbangkan yaitu (a) seberapa PENTINGNYA hal itu buat kita dan (b) seberapa TERGANGGUNYA kita bila tidak ada perubahan. Sudah tentu pihak yang seharusnya mengalah adalah pihak yang mengakui bahwa hal ini tidak terlalu penting dan tidak terlalu terganggu. Namun, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, pihak yang kali ini diutamakan harus berusaha keras pada kesempatan lain untuk mengalah. Di dalam spirit kerja sama seperti inilah perbedaan gaya hidup diselesaikan—satu demi satu.
  2. PENGATURAN DAN PEMAKAIAN UANG.
    Pengaturan uang mencerminkan KEDISIPLINAN diri sedang pemakaian uang menampakkan NILAI yang terkandung dalam diri. Jika kita terbiasa menyisihkan uang dan merancang anggaran, itu menandakan bahwa kita terbiasa hidup berdisiplin. Bila sebelum membeli sesuatu kita mempertimbangkannya masak-masak kegunaannya, itu memperlihatkan bahwa kita berhati-hati dalam pemakaian uang. Sebaliknya ada di antara kita yang tidak seperti itu. Kita tidak terbiasa menyisihkan uang atau merancang anggaran. Kita hanya mengira-ngira, selama kita cukup, kita akan memakai uang. Kita pun tidak suka menunggu; apabila ada uang, kita langsung membelinya. Kriteria yang kita gunakan untuk membeli barang bukan hanya kegunaan tetapi juga KESUKAAN. Jadi, bila kita suka, walaupun kita tidak memerlukannya, kita membelinya. Nah, semua ini membutuhkan penyesuaian. Yang berdisiplin belajar untuk lebih fleksibel sedang yang longgar, belajar menahan diri. Selain itu diperlukan keterbukaan dan kepercayaan; kita perlu terbuka terhadap pasangan mengenai uang yang kita terima memperlihatkan bahwa kita layak dipercaya. Kita mesti menunjukkan bahwa kita tidak sembarangan dalam pemakaian uang dan bahwa kita mempertimbangkan kepentingan keluarga, bukan keinginan pribadi saja. Secara praktisnya, sebaiknya pengantin baru menyatukan rekening bank dan tidak memiliki rekening pribadi. Sisihkan uang untuk pemakaian sehari-hari, untuk keperluan rumah tangga dan untuk persembahan. Jika masih tersisa, sisihkanlah untuk tabungan dan keperluan mendadak. Singkat kata, berkaitan dengan uang, hiduplah bertanggung jawab dan sejak awal, satukanlah uang. Ingat, keterpisahan finansial adalah awal dari keterpisahan relasi.
  3. PEMBAGIAN WAKTU DAN PERHATIAN DENGAN PIHAK LUAR.
    Yang saya maksud dengan pihak luar di sini adalah keluarga asal, teman-teman, pelayanan dan pekerjaan. Pada umumnya kita mengerti bahwa kita mesti mengutamakan keluarga sendiri. Namun dalam kenyataannya kita tidak selalu sepakat akan seberapa sering atau banyaknya waktu yang layak diberikan untuk pihak luar. Buat kita banyak dan sering tetapi buat pasangan, tidak banyak dan tidak sering. Tidak ada rumus yang dapat digunakan untuk menentukan seberapa banyak dan sering waktu yang diberikan kepada pihak luar. Pada akhirnya kriteria penentuan bersifat subyektif, sesuai dengan (a) kebutuhan dan (b) kesiapan. Kita berasal dari beragam latar belakang keluarga; jika pasangan masuk ke dalam pernikahan membawa kebutuhan rasa aman dan kasih yang besar, maka tidak bisa tidak, ia akan mengharapkan kita untuk menyediakannya. Bila pasangan merasa kuat—tidak lagi terlalu membutuhkan rasa aman dan kasih—maka dengan sendirinya ia pun lebih siap untuk tidak ditemani. Ia pun tidak lagi menuntut kita untuk lebih banyak di rumah dan lebih siap melepaskan kita. Jadi, sebaiknya jangan memaksakan pasangan untuk melepaskan kita pada saat ia belum siap karena biasanya dampaknya tidak baik. Memaksakan diri hanyalah akan mencederai pernikahan kita.
  4. BERKAITAN DENGAN HUBUNGAN SEKSUAL.
    Sesungguhnya hubungan seksual adalah sebuah hubungan; sama seperti hubungan lainnya, hubungan seksual pun memerlukan pengenalan dan pengertian. Sebagaimana kita ketahui, kita tidak dapat memunyai hubungan yang baik dengan seseorang bila kita tidak mengenalnya dan mengerti dirinya dengan baik. Demikian pula dengan hubungan seksual. Kita harus mengenal dan mengerti diri dan kebutuhan seksual pasangan. Untuk mengenal dan mengerti diri dan kebutuhan seksual pasangan dibutuhkan waktu, kesabaran dan keterbukaan. Pemaksaan kehendak hanyalah akan menimbulkan akibat buruk yang dapat membuat pasangan enggan untuk berhubungan dengan kita. Itu sebab sebagai pengantin baru, penting bagi kita untuk memulai dengan benar, yakni dengan kelembutan dan kesabaran. Di samping kelembutan dan kesabaran, kita pun harus memulai dengan kerelaan untuk menyenangkan hati pasangan, bukan hanya diri sendiri. Kita pun mesti memulai dengan keterbukaan yakni mengkomunikasikan kebutuhan kita apa adanya dan berupaya untuk menyesuaikannya dengan kebutuhan pasangan. Di samping itu kita harus berani—dan tidak malu—untuk menyampaikan keinginan kita. Sekali lagi, di sini diperlukan kelembutan—baik untuk meminta ataupun untuk menolak. Jangan bersikap kasar atau menghina sebab sikap seperti itu hanyalah akan menghancurkan hati pasangan

Galatia 6:10 mengingatkan, "Karena itu selama ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman." Tuhan menghendaki kita untuk berbuat baik kepada semua orang, sudah tentu termasuk di dalamnya pasangan kita. Jangan lupa, Tuhan telah memercayakannya kepada kita. Jadi, jangan kita menyia-nyiakannya. Dan, jangan lupa berbuat baik kepadanya. Pengantin baru ataupun lama mesti saling berbuat baik. Inilah jalan menuju ke pernikahan yang kuat.