Penderitaan dan Kemarahan Allah

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T592A
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 
Melalui penderitaan Tuhan mengajar kita takut dan mengenal Dia, hidup bijak, bertumbuh dewasa, hubungan dengan kita menjadi hubungan pribadi
Audio
MP3: 
Play Audio: 


Ringkasan

Kita tidak suka membicarakan tentang hukuman, apalagi hukuman Allah. Kita lebih suka berbicara tentang berkat dan kasih Allah. Hukuman membuat kita menderita dan kita tidak suka atau tidak ingin mengaitkanTuhan yang pemurah dan penyayang denganTuhan yang menghukum dan membuat kita menderita. Namun bila kita memelajari FirmanTuhan dengan saksama, kita akan mendapati bahwa Allah yang pemurah dan penyayang adalah Allah yang dapat marah dan menghukum pula, membuat kita menderita. Pada kesempatan ini kita akan melihat hubungan antara penderitaan dan kemarahan Allah, bukan untuk menakuti kita, melainkan mengajar kita hidup bijak yang didasari atas takut dan pengenalan akanTuhan.

Ada banyak sumber penderitaan, salah satunya adalah penderitaan yang lahir dari perbuatan yang kita lakukan dan keputusan yang kita ambil yang tidak berhikmat. FirmanTuhan di Amsal 9:10 berkata, "Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, dan mengenal yang Maha Kudus adalah pengertian."Berlandaskan FirmanTuhan ini, dapat kita simpulkan bahwa kebanyakan perbuatan tidak berhikmat yang kita lakukan dan keputusan tidak berhikmat yang kita ambil berasal dari dua sumber: (a) tidak takut Tuhan dan (b) tidak mengenal Tuhan.

Untuk mengajar kita takut Tuhan dan mengenal-Nya, ada kalanya Tuhan menghukum kita dan membuat kita menderita. Lewat penderitaan yang kita alami, kita diberikan kesempatan untuk hidup bijak. Inilah tujuan dari penghukuman dan penderitaan yang Tuhan berikan kepada kita. Ya, terlalu banyak kesalahan dan penderitaan yang kita timbulkan gara-gara kita tidak takut Tuhan dan tidak mengenal Tuhan.Terlalu banyak kerusakan di dalam hidup, termasuk kerusakan relasi, yang kita hasilkan gara-gara kita tidak takut Tuhan dan tidak mengenal-Nya.

Tujuan lain mengapa Tuhan menghukum dan tega membuat kita menderita adalah karena Ia ingin kita bertumbuh dewasa. Kedewasaan berkaitan erat dengan tanggungjawab; sebaliknya, ketidakdewasaan dikaitkan dengan tidak bertanggungjawab. Sewaktu Tuhan menghukum dan membuat kita menderita, sesungguhnya Ia tengah mendidik kita untuk bertanggungjawab atas perbuatan yang kita lakukan dan keputusan yang kita ambil. Jadi, selain untuk mengenal-Nya, dapat kita simpulkan bahwa semua hukum Tuhan—dan konsekuensi pelanggarannya—diberikan Tuhan kepada kita untuk mendewasakan kita. Ia ingin agar kita, bukan saja tahu, tetapi juga siap untuk menanggung akibat pelanggaran yang kita lakukan.

Di dalam relasi dengan-Nya, Tuhan menghendaki kita menjadi anak—percaya dan tulus. Di dalam relasi dengan dosa dan kehidupan, Tuhan menghendaki kita menjadi dewasa—tahu mana benar dan mana salah serta siap menanggung akibatnya. Itu sebab Tuhan tidak segan menghukum dan membuat kita menderita agar kita bertumbuh dewasa. Ya, tidak ada jalan yang lebih efektif membuat kita dewasa selain jalan penderitaan. Di dalam penderitaan kita dipaksa untuk melihat diri dan melihat Tuhan, sebagaimana dialami oleh Yunus di dalam perut ikan. Ia dipaksa melihat dirinya yang memberontak terhadap perintah Tuhan dan ia dipaksa melihat Tuhan yang berkuasa, bukan saja atas hidupnya, tetapi juga kehidupan ini.

Ada tujuan lain dari mengapaTuhan menghukum dan membuat kita menderita, yaitu Ia ingin agar hubungan-Nya dengan kita menjadi hubungan pribadi. Kitab Ratapan adalah salah satu bukti dan contoh dari kebenaran pemahaman ini bahwa Tuhan yang pemurah dan penyayang dapat menjadi Tuhan yang murka dan menghukum, yang membuat kita menderita. Yeremia meratap sewaktu melihat apa yang terjadi pada umat-Nya. Tuhan menghukum Israel lewat bangsa Babel yang kejam; untuk sementara Babel menjadi tangan Allah yang murka.

Di dalam bukunya, Five Smooth Stones for Pastoral Work, Eugene H. Peterson, seorang mantan gembala sidang, menekankan bahwa murka Allah adalah bukti kasih Allah. Ia marah karena Ia peduli; dan Ia peduli karena relasi-Nya dengan umat-Nya adalah relasi yang pribadi. Begitu pribadinya sehingga Ia dapat tersakiti dan dibuat marah oleh kita, umat-Nya. Tuhan tidak akan menerima upaya manusia untuk menjadikan-Nya Allah yang impersonal. Dia adalah Allah yang personal, begitu personalnya sehingga Ia rela mati buat kita. Jadi, tidak heran Ia pun menuntut kita untuk memerlakukan-Nya secara pribadi. Kemarahan-Nya adalah reaksi dari rasa sakit dan terluka yang dialami-Nya gara-gara perbuatan kita.

Namun, di dalam murka-Nya, kita pun melihat kasih-Nya, dan akan menerima pengampunan dan penebusan-Nya. Tuhan menghukum dan membuat kita menderita tetapi hukuman dan penderitaan bersifat sementara; sebaliknya, kasih dan berkat-Nya adalah selamanya. Sebagaimana diingatkan oleh Pemazmur (103:9-10), "Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita." Tuhan menghukum dan membuat kita menderita supaya kita hidup bijak. Tuhan menghukum dan membuat kita menderita agar kita bertumbuh dewasa. Tuhan menghukum dan membuat kita menderita supaya hubungan-Nya dengan kita menjadi hubungan yang pribadi. Jadi, tidak ada niat jahat sedikit pun pada Tuhan sewaktu Ia menghukum dan membuat kita menderita. Kendati Ia marah, tidak pernah sekalipun kemarahan-Nya terlontar di luar kendali kasih. Mengetahui hal ini, kita tenang. Di saat kita menderita menanggung hukuman Tuhan, kita tahu bahwa Ia tetap menyayangi kita. Ia marah, tetapi Ia tidak membuang kita. Itu sebab kita dapat menghampiri-Nya. Kita tahu, tanpa ragu, bahwa Ia akan membuka tangan-Nya dan menerima kita kembali. Sewaktu Tuhan marah, kita dapat menjauh dari-Nya atau mendekat kepada-Nya. Iblis akan menyuruh kita menjauh, karena itulah harapannya—supaya putus hubungan kita dengan Tuhan. Jangan dengarkan! Sebaliknya, mendekatlah—jangan biarkan hubungan kita dengan Tuhan terputus. Tidak pernah dan tidak akan Ia menolak orang yang bertobat. Terpenting adalah jangan berbuat dosa lagi. Jangan melukai hati Tuhan dan membuat-Nya marah. Jangan sampai kita menanggung hukuman Tuhan dan menderita di bawah murka-Nya. Walau Allah mengasihi Israel, Ia tega menghukum umat-Nya. Begitu besar murka Tuhan dan begitu besar penderitaan yang dijatuhkan atas Israel. Itu sebab Yeremia menangis, tetapi ia tidak putus asa; ia tetap berharap, dan berseru, "Tidak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru setiap pagi. Besar kesetiaan-Mu." (Yeremia 3:22-23)