Mengapa Susah Berteman

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T567B
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 
Untuk berteman, kita harus tulus, dapat membaca batas dan menghormatinya, turut bertanggungjawab memutar roda pertemanan, kita harus memunyai kesamaan dan kita mesti dapat berteman dengan diri sendiri sebelum berteman dengan orang lain.
Audio
MP3: 
Play Audio: 


Ringkasan

Mungkin kita pernah bertanya-tanya, mengapakah kita tidak bisa berteman? Atau, kalaupun bisa, kita tidak dapat memertahankan pertemanan untuk kurun yang lama? Mungkin kita iri dengan orang yang begitu mudahnya berteman dan bisa terus memertahankan pertemanan untuk waktu yang panjang. Sesungguhnya sama seperti hal lainnya, pertemanan atau relasi mesti dipelihara. Berikut akan dibahas beberapa masukan bagaimana memelihara relasi.

PERTAMA, KITA HARUS TULUS.
Tidak ada orang yang mau berteman dengan kita bila kita tidak tulus. Apabila kita hanya berteman karena ada keperluan, pada akhirnya orang enggan untuk berteman. Dengan kata lain, kita tidak boleh berteman untuk memenuhi kepentingan sendiri, sebab tidak ada orang yang senang untuk dimanfaatkan.

Pertemanan dapat dimulai dari kepentingan atau kebutuhan. Jika itulah kondisinya, berterus-teranglah; jangan memberi kesan berbeda. Jangan mengatakan hal-hal manis dan indah tentang dirinya atau pertemanan kita padahal kita tidak berminat untuk berteman. Kita hanya memerlukan bantuannya. Pada umumnya orang mengerti bahwa kadang kita datang kepada orang untuk memohon bantuan. Yang orang tidak dapat terima adalah bila kita datang dengan kata-kata yang indah dan manis, padahal kita tidak berniat menjalin pertemanan dengannya. Jika itu yang terjadi, biasanya orang marah dan merasa dipedaya oleh kita. Masalahnya adalah, memang di dunia ini ada orang yang sesungguhnya hanya mau berteman apabila ada kepentingannya. Bila tidak, mereka tidak mau berteman. Orang-orang seperti ini tidak merasa butuh untuk berteman; tidak heran pertemanan mereka hanya sebatas keperluan. Apabila tidak ada keperluan, maka tidak ada pertemanan; pada akhirnya mereka akan hidup sendiri. Orang menghindar berteman dengan mereka karena tahu, mereka tidak tulus.

KEDUA, KITA HARUS DAPAT MEMBACA BATAS DAN MENGHORMATINYA.
Salah satu penyebab mengapa orang tidak mau berteman dengan kita adalah kita tidak bisa membaca batas dan menghormatinya. Setiap orang unik; ada yang senang untuk akrab dengan seketika, ada yang memerlukan waktu yang panjang. Ada yang cepat bercerita hal-hal pribadi, ada yang lambat. Ada yang menikmati guyon, ada yang lebih suka serius. Ada yang suka dimintai tolong, ada yang tidak suka. Ada yang cepat tersinggung, ada yang lambat tersinggung.

Kita harus jeli melihat batas yang dikehendaki oleh teman dan menghormatinya. Apabila kita tidak bisa membaca batas dan menghormatinya, niscaya kita akan dijauhi. Mereka akan merasa tidak nyaman atas perilaku kita; alhasil mereka mulai menarik diri. Itu sebab setiap pertemanan mesti kita perlakukan sebagai baju jahitan. Kita tidak dapat menggunakan ukuran yang sama untuk semua pertemanan karena masing-masing unik dan khusus.

KETIGA, KITA MESTI TURUT BERTANGGUNG JAWAB MEMUTAR RODA PERTEMANAN.
Kita tidak bisa dan tidak semestinya bersikap pasif dan mau "jadinya saja." Kendati pertemanan kita baik, namun bila kita tidak berinisiatif menghubungi teman, pada akhirnya mereka akan malas untuk berhubungan dengan kita. Mereka akan merasa letih karena terus bertepuk sebelah tangan. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa berteman bukanlah untuk orang yang malas; berteman adalah untuk orang yang rajin. Pertemanan memang masih bisa bertahan walau kita terpisah oleh jarak. Kadang kita tidak bertemu selama bertahun-tahun, tetapi ketika berjumpa, kita tetap akrab. Namun, bila kita tidak terpisah oleh jarak tetapi malas berhubungan, tinggal masalah waktu sebelum akhirnya pertemanan kita meleleh. Itu sebab, bila kita ingin memertahankan pertemanan, kita mesti mengeluarkan tenaga dan usaha.

KEEMPAT, KITA HARUS MEMUNYAI KESAMAAN.
Pertemanan dibangun di atas kecocokan, bukan di atas ketidakcocokan. Memang kecocokan tidak mesti didasari atas kesamaan tetapi pada umumnya kesamaan berperan besar dalam kecocokan. Makin banyak kesamaan, makin tinggi tingkat kecocokan; tanpa kesamaan, mustahil kita dapat membangun pertemanan. Walau pertemanan dibangun di atas kecocokan dan kesamaan, namun adalah penting bagi kita untuk menghormati perbedaan. Kita harus menyadari bahwa pertemanan tidak mengharuskan kita untuk menanggalkan kehendak, keyakinan dan nilai yang kita anut. Sama dengan itu, pertemanan tidak memberi kita dasar untuk memaksakan kehendak, keyakinan dan nilai yang kita anut pada teman. Pertemanan yang langgeng adalah pertemanan yang berlandaskan banyak kesamaan dan sedikit perbedaan, tetapi berlimpah ruang kebebasan.

KELIMA, KITA MESTI DAPAT BERTEMAN DENGAN DIRI SENDIRI SEBELUM BERTEMAN DENGAN ORANG LAIN.
Artinya, kita hanya dapat menjadi teman yang baik jika adalah hidup damai dengan diri sendiri. Apabila kita memunyai banyak kemarahan dan ketidakpuasan, akhirnya semua perasaan negatif itu akan tertuang ke dalam pertemanan. Jika kita memiliki banyak kebutuhan, tidak bisa tidak, kita akan membawa kebutuhan itu ke dalam pertemanan dan akhirnya menuntut teman untuk memenuhinya. Jika tidak, kita marah dan kecewa. Itu sebab tidak dapat dipungkiri, orang yang sehat cenderung dikelilingi teman; sebaliknya orang yang tidak sehat, dijauhi oleh teman. Pada akhirnya kita memilih teman berdasarkan satu kriteria: Apakah pertemanan ini menyenangkan atau tidak? Biasanya kita menghindar dari teman yang memberi beban tambahan dan membuat kita kesal dan letih. Apakah itu berarti kita tidak boleh memunyai masalah sama sekali untuk dapat berteman? Sudah tentu, boleh, tetapi sebaiknya tidak terus menerus. Jika terus menampung masalah dan sikap negatif kita, akhirnya mereka tidak mau berteman dengan kita lagi. Pada akhirnya inilah prinsip berteman yang tidak pernah lapuk dimakan waktu, yaitu Amsal 11:25, "Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan; siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum."