Memelihara Pernikahan 4

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T566B
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 
Empati yang tulus memelihara dan menumbuhkan pernikahan, tanpa empati komunikasi mengalami hambatan, mendengar baik-baik, belajar menempatkan diri pada posisi pasangan, belajar introspeksi diri, fleksibel dan rendah hati.
Audio
MP3: 
Play Audio: 


Ringkasan
Empati Yang Tulus

Empati adalah kesanggupan untuk masuk ke dalam diri orang dan merasakan apa yang dirasakannya. Pernikahan membutuhkan banyak sekali empati ! Setidaknya ada dua hal dalam pernikahan yang membutuhkan empati:

  1. komunikasi dan
  2. belas kasihan.
Mari kita perhatikan keduanya secara saksama. Komunikasi barulah dapat terjalin dengan lancar dan berpotensi berkembang mendalam bila ada empati. Tanpa empati kesalahpahaman mudah terjadi, dan hampir dapat dipastikan komunikasi tidak akan dapat berjalan jauh. Bagaimanakah kita dapat terus berbagi rasa setelah dipecat dari pekerjaan jika pasangan terus menyoroti performa kerja kita? Bagaimanakah kita bisa bercerita tentang kegagalan kita bila pasangan terus berkata bahwa kegagalan adalah guru terbaik? Dan, bagaimanakah kita dapat mengutarakan kemarahan kita atas ketidakadilan yang kita alami jika pasangan terus berkata bahwa ketidakadilan adalah masalah perspektif dan bahwa terpenting adalah mengubah perspektif kita? Semua contoh ini memerlihatkan ketidakadaan empati dan sebagaimana dapat kita lihat, tanpa empati komunikasi langsung mengalami hambatan.

Selain komunikasi, empati juga diperlukan dalam berbelas-kasihan. Pernikahan adalah relasi dan semua relasi mengharuskan adanya belas-kasihan. Tanpa belas-kasihan relasi berubah dingin dan kehilangan keintiman. Empati membuat kita mengerti mengapa pasangan begitu sedih setelah kehilangan pelayanannya dan empati menolong kita menghiburnya secara tepat. Empati membuat pasangan dimengerti; masalah mungkin masih sama tetapi rasa dimengerti membuatnya terhibur. Dan, empati membuat konflik reda kendati belum ada penyelesaian sebab empati membuat kita yakin bahwa pasangan benar-benar memahami pemikiran dan ketidaksetujuan kita. Itu sebab empati mutlak harus ada untuk memelihara pernikahan.

Pertanyaannya adalah bagaimanakah kita dapat mengembangkan empati? Firman Tuhan di Yakobus 1:19, "setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah," mengajar kita untuk mengendalikan kemarahan. Namun sesungguhnya di dalam nasihat yang baik ini terkandung pula nasihat untuk mengembangkan empati. Mari kita perhatikan. Pertama, empati dimulai dengan "mendengar." Betapa sering kita gagal berempati—menempatkan diri pada posisi pasangan—gara-gara kita terus berbicara.

Saya mengakui bahwa tidak selalu saya dapat berempati pada saat saya tengah berbicara dengan Santy, apalagi bila kami sedang berkonflik. Acap kali saya baru dapat berempati setelah saya berdiam diri dan kembali "mendengarkan" apa yang diucapkannya tadi. Singkat kata, kadang tidak cukup kita mendengar baik-baik apa yang dikatakan pasangan; sering kali kita perlu kembali merenungkan apa yang dikatakannya untuk dapat memahami pemikiran dan perasaannya. Jadi, sekali lagi, untuk dapat berempati kita harus mendengar baik-baik.

Berikut adalah lambat untuk berkata-kata. Sudah tentu makna utamanya adalah jangan cepat menjawab dan jangan berbicara sembarangan, bukan berbicaralah dengan kecepatan rendah. Singkat kata, kita harus memikirkan baik-baik apa yang mesti dikatakan dan jangan menuruti emosi sesaat sewaktu menjawab. Namun di dalam nasihat, "lambat untuk berkata-kata," juga terkandung pelajaran tentang berempati yaitu berkatalah dengan tepat. Kita hanya dapat berkata dengan tepat bila kita benar-benar mengerti pemikiran dan perasaan pasangan.

Jawaban cepat mudah diberikan, jawaban tepat sulit diberikan. Untuk dapat memberi jawaban yang tepat kita harus mengerti bukan saja perasaan dan pemikiran pasangan, kita pun mesti memahami tujuan atau motivasinya.Tidak jarang kesalahpahaman dan konflik timbul oleh karena kita salah mengerti motivasi pasangan. Kita menuduhnya berniat tidak baik—mungkin hendak menyerang atau menyalahkan kita atau tidak memikirkan kepentingan kita dan tidak mengasihi kita—padahal pasangan sama sekali tidak bermotivasi buruk sama sekali. Itu sebab penting untuk kita lambat untuk berkata-kata; cepat untuk berkata-kata hampir pasti membuat kita kehilangan sasaran dan memperkeruh konflik.

Terakhir adalah, lambat untuk marah. Pada dasarnya lambat untuk marah adalah nasihat untuk tidak cepat bereaksi; terkandung di dalamnya adalah pelajaran tentang empati. Kita mesti lambat mengeluarkan reaksi sendiri tetapi cepat untuk memelajari reaksi pasangan. Kita harus cepat bertanya, "Mengapakah ia bereaksi seperti itu?" dan, "Apakah yang membuatnya bereaksi seperti itu? Apakah yang saya perbuat atau katakan yang membuatnya bereaksi seperti itu?" Berempati adalah upaya untuk memahami reaksi pasangan dan itu menuntut kesediaan kita untuk berintrospeksi—memeriksa perkataan dan tindakan kita yang membuatnya bereaksi seperti itu. Tanpa introspeksi, reaksi akan dibalas dengan reaksi.

Empati yang tulus adalah terjemahan dan bukti dari kasih yang tulus. Sewaktu kita berempati—memahami perasaan dan pikiran pasangan—sesungguhnya kita tengah mengkomunikasikan kasih yang tulus. Berempati adalah tindakan konkret mengecilkan diri dan mementingkan pasangan; dengan kata lain, empati adalah bukti kesediaan kita mengesampingkan ego dan mengedepankan pasangan. Itu sebab, tidak bisa tidak, empati yang tulus mengkomunikasikan kasih yang tulus pula. Dan, kasih yang tulus memelihara dan menumbuhkan pernikahan.

Kesimpulan
Ada empat hal yang memelihara pernikahan:
  1. komunikasi yang terbuka,
  2. komitmen yang teguh,
  3. pengampunan yang tak putus-putus, dan
  4. empati yang tulus.

Keempatnya tidak mudah untuk dilakukan dan menuntut perjuangan tetapi layak untuk diusahakan sebab pernikahan yang sehat bukan saja berdampak untuk hari ini tetapi juga untuk hari esok. Berkat pernikahan yang sehat bukan saja menetes pada jiwa anak, tetapi juga menyirami banyak orang di sekitar pula. Itu sebab kita mesti berusaha menerapkannya.