Kemarahan Didalam Pernikahan

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T595B
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 
Empat sumber kemarahan yang dibawa ke dalam pernikahan, yaitu berasal dari orang tua atau keluarga asal, dari orang-orang penting dalam hidup kita, dari perbuatan orang jahat dalam hidup kita dan dari masalah jiwa yang tidak sehat di dalam diri kita sendiri.
Audio
MP3: 
Play Audio: 


Ringkasan

Tidak ada pernikahan yang sempurna sebab tidak ada pribadi yang sempurna. Itu sebab dalam pernikahan pertengkaran tetap terjadi dan kekecewaan kadang mesti kita telan. Masalahnya adalah, ada sebagian kita yang bila marah kepada pasangan bukan saja marah biasa tetapi bisa begitu marah seakan membenci pasangan, padahal perbuatannya atau kesalahannya biasa saja. Bila ini terjadi, besar kemungkinan penyebabnya adalah karena kita menyimpan kemarahan di hati yang belum pernah kita selesaikan. Marilah kita melihat empat sumber kemarahan yang kerap kita bawa masuk ke dalam pernikahan.

Pertama, pada umumnya kemarahan di hati yang kita bawa ke dalam pernikahan berasal dari orang tua atau keluarga asal. Orang tua adalah manusia biasa, jadi, mereka tidak lepas dari kesalahan dalam membesarkan kita. Namun, kita pun mesti mengakui bahwa sebagian orang tua berbuat banyak kesalahan sehingga meninggalkan luka yang dalam di hati anak. Ada yang mendisiplin anak secara berlebihan, ada yang mencaci-maki anak seenaknya, ada yang meremehkan dan menghina anak sepuasnya, ada yang memanfaatkan anak, ada yang mudah dan kerap menyalahkan anak, dan ada yang malah menyia-nyiakan anak. Tindakan-tindakan ini meninggalkan luka di hati yang tidak pernah kering; seakan-akan luka itu masih segar karena baru terjadi kemarin, padahal ini terjadi bertahun-tahun yang lampau. Nah, sewaktu kita masuk ke dalam pernikahan, luka itu terkuak kembali. Walau luka yang timbul dalam pernikahan sebenarnya bukan luka yang dalam tetapi karena luka lama masih segar, maka sedikit goresan cukup untuk membuat kita marah sedemikian besarnya.

Kedua, pada umumnya kebencian di hati yang kita bawa ke dalam pernikahan berasal dari orang-orang penting dalam hidup kita. Selain orang tua, biasanya ada orang yang penting atau berpengaruh besar dalam hidup kita, seperti anggota keluarga yang lain, guru, pembimbing, baik itu rohani ataupun dalam kapasitas lainnya. Karena penting dan berpengaruh, kita kagum dan menghormati mereka. Apa daya, mereka mengecewakan kita dan membuat kita marah. Acap kali luka ini kita bawa masuk ke dalam pernikahan dan membuat kita peka dengan sikap atau perbuatan pasangan yang mirip dengan atau mengingatkan kita akan sikap atau perbuatan orang penting dalam hidup kita dulu. Sebagai akibatnya kita tidak bisa membedakan antara pasangan dan orang penting itu dan menyamakan keduanya. Kita pun tidak dapat melihat secara jernih bahwa belum tentu pasangan berniat melukai hati kita seperti yang kita tuduhkan. Biasanya kemarahan yang meledak begitu besar membuat pasangan terkejut sebab ia tidak menyangka bahwa sikap atau perbuatannya akan memancing reaksi sekeras itu dari kita.

Ketiga, pada umumnya kemarahan di hati yang kita bawa ke dalam pernikahan berasal dari orang jahat dalam hidup kita. Yang saya maksud dengan orang jahat di sini adalah orang yang tidak memunyai relasi pribadi dengan kita, yang telah berbuat jahat terhadap kita, menjadikan kita korbannya. Biasanya perbuatan jahat yang menimpa kita membuat kita merasa tidak berdaya dan selalu was-was. Kita menjadi lebih tegang dan mudah marah. Menjadi korban kejahatan biasanya meninggalkan dua perasaan yang kuat yaitu tidak aman dan tidak mudah percaya orang. Karena kejahatan biasanya datang secara tiba-tiba dan tak terduga, pada akhirnya kita menjadi orang yang tegang dan was-was. Kita menjadi pribadi yang butuh kesamaan—keajegan—dan ingin dapat mengetahui sesuatu tanpa harus menebak-nebak. Itu sebab kita tidak suka perubahan, apalagi perubahan mendadak. Tidak heran bila pasangan mengubah atau melakukan sesuatu yang mengagetkan, kita menjadi begitu marah.

Dan kita pun sulit percaya orang; sulit percaya bahwa orang bermaksud baik, dan sulit percaya bahwa orang tidak berniat buruk terhadap kita. Di dalam pernikahan kita cepat menuduh pasangan berniat buruk dan semena-mena terhadap kita seakan pasangan adalah orang yang ingin menjadikan kita korbannya, padahal sebenarnya tidaklah demikian. Tidak heran sewaktu marah, kita menjadi begitu marah terhadapnya seakan-akan dia adalah orang yang jahat.

Keempat, pada umumnya kemarahan di hati yang kita bawa ke dalam pernikahan berasal dari problem di jiwa kita sendiri. Andaikan kita semua sehat, maka berbahagialah hidup kita dan relasi nikah kita. Masalahnya adalah tidak semua masuk ke dalam pernikahan membawa jiwa yang sehat; sebagian justru menderita sakit.

Bila kita menderita gangguan kecemasan, maka kita mudah cemas, dan sering kali sepaket dengan kecemasan adalah emosi yang labil dan tak terkendali. Alhasil sewaktu marah, tidak hanya kita mengungkapkan kemarahan, tetapi juga memuaskan emosi. Kita baru berhenti sewaktu melihat pasangan tersakiti. Bila kita menderita gangguan kepribadian borderline, kita menjadi diri yang mudah tersinggung. Begitu tersinggung, kita marah dan menyakiti pasangan.

Ada pelbagai sumber kemarahan dan masing-masing perlu penanganan tersendiri. Bila kita hidup bersama pasangan yang bukan saja marah, tetapi kerap membenci kita sewaktu marah, tentulah kita menderita. Biasanya kita frustrasi dan hilang harapan sebab apa pun yang kita lakukan untuk menghilangkan kemarahannya, tidak membuahkan hasil. Sering kali justru upaya kita berbalik seperti bumerang, membuatnya tambah marah dan agresif.

Kunci untuk menemukan akar kemarahan dan membereskannya adalah mengakui bahwa kita bermasalah dengan kemarahan. Ini sukar sebab kita yang bermasalah dengan kemarahan tidak mau mengakuinya; kita malah melemparkan kesalahan pada pasangan yang membuat kita marah. Kita lupa bahwa benar, semua bisa marah dan punya alasan untuk marah, tetapi tidak semua orang akan marah seperti itu. Jadi, bila kita menikah dengan pasangan seperti ini, kita mesti berdoa agar Tuhan membukakan matanya untuk melihat dirinya secara jelas dan tepat.