Anak dan Balon 1

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T590A
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 
Sejak kecil kita mulai mendoakan anak, percayakan anak kepada Tuhan, mengarahkan secara jasmani, mental, moral dan rohani serta melepaskan sedikit demi sedikit.
Audio
MP3: 
Play Audio: 


Ringkasan

Dr. James Dobson, seorang pakar keluarga, mengibaratkan membesarkan anak seperti mengisi balon dengan gas kemudian melepaskannya ke udara. Ada balon yang terus membumbung tinggi ke langit tetapi adapula yang menyangkut di pepohonan. Maksud pengibaratan ini adalah, kita hanya dapat melakukan tugas kita sebagai orangtua sampai titik tertentu; melewati titik itu, kita mesti melepaskannya. Mungkin ada anak yang bertumbuh relatif lancar tanpa harus tersangkut masalah; tetapi mungkin ada yang harus tersangkut masalah, bukan sebentar, melainkan bertahun-tahun. Ada yang membanggakan tetapi ada pula yang mengecewakan. Bila demikian, sikap seperti apakah yang mesti kita miliki dalam membesarkan anak?

Pada umumnya ada dua sikap yang muncul. Pertama, karena kita takut anak akan lepas dan menjadi pribadi yang tidak kita harapkan, kita pun berusaha mengendalikannya seketat mungkin. Sejak kecil, bukan saja kita mengawasi perkembangannya, kita pun membatasi pergaulannya. Kita melarangnya melakukan hal-hal yang kita anggap dapat membahayakan dirinya dan menyuruhnya untuk mengikuti petunjuk kita. Demi menjaga "kemurniannya" kitapun memisahkannya dari pergaulan yang kita anggap tidak sehat dan merusak.

Kedua, karena kita berpendapat bahwa apa pun yang kita lakukan, toh, tidak dapat membawa kepastian, maka kitapun memilih membiarkan. Kita hanya menekankan hal yang kita anggap penting, seperti belajar dan bekerja. Selama itu dikerjakan, kita menutup mata terhadap hal lainnya. Kita membiarkannya bergaul dengan siapa pun dan tidak mengharuskannya mewarisi nilai-nilai moral dan spiritual tertentu. Kita berpendapat, biar nanti mereka sendiri memilihnya.

Sudah tentu kedua sikap ini memunyai kekuatan dan kelemahannya.Terlalu mengekang tidak baik, terlalu membiarkan, juga tidak baik; jadi, yang baik adalah kita menyeimbangkan keduanya. Berikut adalah beberapa saran untuk menerapkan keduanya secara berimbang.

Pertama, sejak anak kecil, kita sudah harus mulai MENDOAKANNYA. Kita bersyukur kepada Tuhan yang telah mengaruniakannya kepada kita. Mazmur 139:13 menegaskan bahwa Allah ialah pencipta manusia, "Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku." Jadi, anak adalah manusia yang diciptakan oleh Tuhan, diserahkan dan dipercayakan kepada kita. Itu sebab kita mesti berterima kasih kepada-Nya, yang telah bermurah-hati mengaruniakan dan memercayakan manusia ciptaan-Nya kepada kita. Kita pun berdoa meminta Tuhan menjaga dan menuntun langkah hidup anak ini, agar ia hidup takut akanTuhan, dan mengasihi Tuhan dan sesama. Kita memohon agar Tuhan menjauhkan anak ini dari yang jahat dan memberkati hidupnya supaya ia menjadi berkat bagi sesama. Terakhir kita berdoa menyerahkan masa depannya ke tanganTuhan, sebagaimana dikatakan oleh Mazmur 139:16, "Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis." Kita berdoa agar anak ini hidup di dalam rencanaTuhan.

Kedua, selain mendoakannya, kita pun mesti MENGARAHKANNYA. Mengarahkan anak dimulai dengan pengarahan secara jasmaniah. Kita harus menetapkan jadwal hidup yang konsisten—kapan ia tidur, kapan ia bangun, kapan ia makan, kapan ia belajar, bagaimana menjaga kebersihan dan kesehatan, dan seterusnya. Kita pun mesti mengarahkannya secara mental—menyekolahkannya, mengajaknya bicara dan bertukar pikiran tentang topik topik tertentu. Selain itu, kita pun perlu mengarahkannya secara moral dan rohani—apa yang baik dan buruk, apa yang salah dan benar, serta hidup takut dan mengasihi Tuhan. Tidak seharusnya kita membiarkan anak berjalan sendiri dan menentukan nilai moral tanpa bimbingan. Kita mesti mengenalkannya dengan Allah sebagaimana dinyatakan oleh Firman-Nya. Dan dengan Yesus Kristus, Juruselamat dunia, agar sejak kecil ia memahami bahwa ia—dan kita semua—adalah orang berdosa yang telah menerima kasih karunia pengampunan melalui kematian-Nya.

Ketiga, kita mesti MELEPASKANNYA sedikit demi sedikit. Pada akhirnya kita harus menerima kenyataan bahwa kita tidak dapat mendampingi dan mengawasi anak 24 jam sehari. Dan, kita tidak bisa menjaga dan melindunginya dari pengaruh yang datang dari luar dirinya. Kita harus menerima kenyataan bahwa anak adalah pribadi yang terpisah; makin besar, makin terpisah ia dari kita. Jadi, kita tidak bisa menguasai alam pikirannya dan mengendalikan kehendak dan pilihannya. Itu sebab kita mesti melepaskannya dan menyerahkannya ke tanganTuhan.

Ibarat mengisi balon dengan udara, dalam membesarkan anak, kita mesti mengisi anak dengan pengarahan, baik jasmaniah, mental, ataupun rohaniah. Namun, sama seperti balon yang mesti kita lepaskan bila kita ingin melihatnya terbang, kitapun harus rela melepaskannya dan tidak boleh terus menggenggamnya. Kalaupun nanti anak tersangkut di pepohonan masalah, kita harus memercayakannya ke tangan Tuhan. Mazmur 127:4 mengingatkan, "Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda."

Anak panah bukanlah untuk terus disimpan di dalam tabung panah; anak panah adalah untuk dilepaskan. Demikian pulalah anak; bukan untuk disimpan, melainkan untuk dilepaskan. Apabila kita tidak melepaskannya—dan terlalu melindunginya—kita malah merugikannya. Pertama, kita merugikannya dalam pengertian, kita MEMATAHKAN SAYAPNYA, membuatnya tidak dapat terbang sendiri. Akhirnya setelah dewasa ia akan terus bergantung pada kita dan berlindung di bawah kepak sayap kita. Ia tidak bisa mengambil keputusan sendiri dan ini yang lebih buruk: ia tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Pada akhirnya kita harus mengambilkan keputusan untuknya dan memenuhi keperluannya. Ia tidak bisa menyelesaikan masalah dan bergantung pada kita untuk menyelesaikan masalahnya. Ini tidak sehat.

Ada beberapa kemungkinan mengapa orangtua menjadi begitu protektif terhadap anak:
  • Orangtua melihat anak lemah, mungkin sakit-sakitan.
  • Orangtua memandang lingkungan di luar atau dunia berbahaya.
  • Orangtua menginginkan kedekatan dengan anak, itu sebab mereka terus menyuburkan kebergantungan.
  • Orangtua mengganggap anak mesti dilindungi dari kegagalan.
Kedua, kita merugikannya dalam pengertian, kita TIDAK MEMBERIKANNYA KESEMPATAN MENGEMBANGKAN DIRI, menjadi pribadi yang utuh dan matang. Dapat dikatakan, semua potensi yang dimilikinya terbenam di dalam dirinya dan tak pernah tergali, apalagi terungkap keluar. Akhirnya, bukan saja ia kehilangan kepercayaan diri, ia pun kehilangan kesempatan untuk berkarya dan bersumbangsih. Tidak pernah ia menemukan dan menjadi dirinya. Berikut akan dipaparkan apa yang umumnya dilakukan anak yang belum menemukan dirinya:
  • Ia senantiasa meminjam diri yang lain. Ibarat bunglon, ia senantiasa beradaptasi dengan lingkungan; dengan kata lain, ia akan meniru dan mengenakan pribadi orang tertentu yang dianggapnya cocok untuk situasi tersebut.
  • Ia mengikut orang lain agar aman. Ia selalu melihat situasi, ke mana arah angin bertiup dan mengikutinya.
  • Ia berlindung di balik orang lain yang dianggapnya kuat dan dapat melindunginya.
Ketiga, kita merugikannya dalam pengertian, kita MENGELUARKANNYA DARI DUNIA NYATA. Ia akan bertumbuh menjadi pribadi yang penakut, ragu dalam bertindak, dan mudah lari dari tantangan. Akhirnya ia hidup di dalam dunianya sendiri, dan pada umumnya ia akan hidup sendiri, karena tidak ada yang dapat atau ingin berbagi hidup dengannya. Berikut akan dipaparkan beberapa kemungkinan yang dapat terjadi pada pribadi ini:
  • Ia akan terisolasi dari lingkungan. Makin ia terisolasi, makin ia menyimpang—dan aneh—pemikirannya. Ini tak terhindarkan sebab dalam kenyataannya, hidup mengharuskan kita untuk menemui tantangan dan kesulitan. Jika kita menghindar, maka kita tidak pernah belajar tentang sisi hidup yang kaya dengan pelajaran ini .Akhirnya pemikiran dan konsep yang kita kembangkan cenderung mengambang di udara dan bersifat teoretis.
  • Ia akan menjauh dari sesama. Makin menjauh, ia pun makin dijauhkan oleh sesama. Ia menjauh sebab ia melihat diri dan pemikirannya berbeda dari kebanyakan orang. Sebenarnya ini pula yang dilihat oleh orang dan ini membuat orang tidak nyaman dekat dengannya. Orang merasa sulit untuk menerima pemikirannya dan menjauh darinya.
  • Tidak jarang, pada akhirnya ia mengembangkan kepribadian paranoid—mudah curiga, berpikir negatif, penuh ketakutan.Ia merasa tidak dimengerti dan ditolak orang; sayangnya, ia tidak dapat melihat bahwa sumber masalah ada pada dirinya. Pada umumnya ia malah menyalahkan orang—bahwa mereka tidak suka atau iri kepadanya.

Amsal 23:13-14 berkata, "Jangan menolak didikan dari anakmu; ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati." Menolak didikan dari anak berarti melindungi anak secara berlebihan dengan cara menjauhkannya dari penderitaan yang seharusnya diterimanya. Inilah disiplin: Mengingatkan anak akan konsekuensi perbuatannya dan ini berarti, menempatkannya dialam nyata. Membebaskannya dari konsekuensi sama dengan mengeluarkannya dari alam nyata. Dan ini berbahaya. Ini sama dengan membawanya masuk ke dalam dunia orang mati.