Berita Telaga Edisi No. 158 /Tahun XIV/Januari 2018
Diterbitkan oleh Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK)
Sekretariat: Jl.Cimanuk 56 Malang 65122 Telp.: 0341-408579, Fax.:0341-493645
Email: telagatelaga.org
Website: http://www.telaga.org [1] Pelaksana: Melany N.T., Rr. Fradiani Eka Y.
Bank Account: BCA Cab. Malang No. 011.1658225 a.n. Melany E. Simon
Membangun Kepercayaan dalam Pernikahan
Pernikahan didirikan di atas kepercayaan; tanpa kepercayaan, pernikahan bukanlah sebuah relasi yang intim dan saling mengikat. Bagaimanakah caranya membangun kepercayaan di dalam pernikahan?
Pertama, berkaitan dengan kepercayaan, kita dapat mengkategorikan adanya tiga kelompok orang:Ada dua hal yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan kompetensi. Pertama, kita harus membangun satu sama lain lewat pujian dan penguatan sebab itulah yang mendorong pertumbuhan. Kritikan biasanya malah menjatuhkan semangat orang untuk berbenah diri. Kedua, bagi pihak yang membutuhkan bantuan, akuilah kelemahan dan mintalah bantuan pasangan. Saya kira kita akan lebih siap menolong bila pasangan mengakui keterbatasannya. Sebaliknya, sikap yang enggan mengakui kelemahan, makin menjauhkan kita darinya.
Kepercayaan juga dibangun di atas karakter. Makin baik karakter seseorang, makin kita memercayainya. Sebaliknya, makin kita melihat kelemahan pada karakternya, makin sukar kita memercayainya. Itu sebabnya masing-masing pihak harus terus memerbaiki diri dan bersedia diperbaharui. Sikap tidak mau berubah merupakan tanda karakter yang bermasalah.
Galatia 5:22-23 [2] menjabarkan buah Roh Kudus yang seyogianya ada pada diri setiap orang Kristen, "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri." Rasa percaya niscaya bertumbuh tatkala kita melihat suami sebagai suami yang penuh kasih dan kesabaran dan istri sebagai istri yang penuh sukacita dan penguasaan diri, dan sebagainya.TELAGA MENJAWAB
Tanya
Shalom,Saya telah menikah selama 16 tahun dan memunyai satu anak berusia 15 tahun. Selama 6 tahun suami saya bekerja ke luar negeri (Negeri A) dan di tahun-tahun itulah dia berselingkuh dengan sesama orang Kristen di sana. Setelah setahun suami bekerja di Negeri A, saya mendapatkan bukti perselingkuhannya. Awalnya suami tidak mau mengaku, namun karena saya terus meminta kejujurannya, akhirnya dia mengakuinya dan mengatakan bahwa mereka sudah berhubungan intim. Suami memohon ampun dan janji tidak akan mengulanginya lagi, seiring berjalannya waktu saya pun bisa memaafkannya. Tapi ternyata selama itu pula suami tetap melanjutkan perselingkuhannya. Berkali-kali saya menemukan bukti bahwa mereka tetap berhubungan, berkali-kali pula suami memohon ampun dari saya. Sampai ketika dia pulang ke Indonesia karena kontrak kerjanya habis, saya mengajaknya bertemu dengan gembala gereja kami dan disitu dia mengaku bahwa selama di Negeri A, mereka hidup bersama layaknya suami istri dan suami saya menafkahi keluarga selingkuhannya. Dengan kekuatan Tuhan saya bisa menerimanya dan dengan pertolongan Tuhan suami dapat kerja di luar kota (Kota B) dan masih satu perusahaan dengan yang di Negeri A. Sebagai istri, saya sangat bersyukur. Sampai suatu hari saya menemukan Facebook barunya yang dia pakai untuk menghubungi wanita di Negeri A itu. Suami memohon ampun lagi.
Masalahnya sekarang, suami meminta ijin untuk bekerja di luar negeri lagi, kali ini ke Negeri C. Alasannya, dia butuh suasana kerja yang baru untuk menenangkan hati dan pikirannya. Menurutnya, dengan perusahaan yang sama, dia tidak bisa melupakan kenangan-kenangan dengan wanita itu. Saya menolak. Saya minta dia bertahan, mungkin butuh adaptasi, saya katakan bahwa kami harus bersyukur dengan pekerjaan yang sekarang, dan jujur saya trauma. Hasilnya komunikasi kami kurang baik. Dia mengatakan lewat SMS kalau saya ini tidak percaya lagi kepadanya, dia merasa sangat kecewa kepada saya, dan mengatakan bahwa saya istri yang tidak tunduk kepada suami.
Bagaimana menghadapi suami saya ini? Sikap apa yang harus saya ambil? Kerinduan saya hanya ingin memiliki waktu bersama membimbing anak kami yang mulai beranjak remaja. Terima kasih.
Jawab
Shalom, Ibu yang terkasihBicara soal membina sebuah rumah tangga seharusnya ada kerjasama dan ada kehadiran bersama dimana pasangan berjuang bersama, mendayuh bersama. Enam tahun terakhir anda dan suami berpisah karena suami bekerja di luar negeri dan baru 1 tahun kerja didapati berselingkuh dan terus dilakukan sampai bertahun-tahun.
Hakekat keluarga adalah berjuang bersama dan kalaupun harus terpisah itu tidak boleh dalam waktu yang lama. Buat saya 6 tahun suami bekerja di luar negeri sudah cukup menimbulkan masalah. Tujuan suami keluar negeri karena ada kebutuhan ekonomi. Kenyataannya kebutuhan ekonomi tidak terpenuhi. Malah ada timbul masalah pelik soal perzinahan dengan wanita lain.
Saran saya, suami cari kerja di kota yang sama dengan Ibu. Jangan pisah kota supaya memperkecil kemungkinan jatuh dalam dosa yang sama. Ini bukan soal tunduk, ini soal keutuhan keluarga. Bicara baik-baik dengan suami bahwa anak sudah remaja perlu figure ayah.
Bawa dalam doa dan puasa suami ibu yang masih "egois" ini agar Tuhan pulihkan. Supaya bisa berpikir lebih dewasa bahwa kerja di Negeri C bukan tempat untuk bisa melupakan kenangan bersama selingkuhan lama. Suami harus sungguh bertobat dan kembali kepada Tuhan. Itu jalan untuk tidak lagi ingat dengan kenikmatan dosa lama.
Kesempatan sudah pernah ibu diberikan dan suami ulang-ulang jatuh ke dalam hal yang sama. Jadi, saran saya yang paling utama adalah ibu sungguh doakan suami. Mohon belas kasihan Tuhan supaya suami bisa dewasa. Selain itu jangan terpancing dengan intimidasi dari suami. Terus doakan dan ambil waktu puasa.
Demikian tanggapan dari kami. Tuhan memberkati.
Salam : Pdt. Esther J. ReyDOAKANLAH
Masa tua adalah fase khusus yang penuh dengan perubahan dan tantangan, baik soal diri sendiri maupun soal hubungan dengan pasangan dan anak cucu. Kumpulan artikel ini dibukukan untuk menolong pembaca mempersiapkan diri memasuki masa tua dan terus percaya bahwa Tuhan menyertai sampai rambut memutih. Buku ini memuat tujuh (7) artikel:
Links
[1] http://www.telaga.org
[2] http://alkitab.mobi/tb/passage/galatia+5%3A22-23
[3] https://m.telaga.org/audio/membangun_kepercayaan_dalam_pernikahan
[4] https://play.google.com/store/apps/details?id=org.sabda.konseling
[5] mailto:telaga@telaga.org
[6] https://m.telaga.org/jenis_bahan/berita_telaga