Berita Telaga Edisi No. 79 /Tahun VII/ Maret 2011
Diterbitkan oleh Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK)
Sekretariat: Jl.Cimanuk 56 Malang 65122 Telp.: 0341-408579, Fax.:0341-493645
Email: telagaindo.net.id
Website: http://www.telaga.org [1] Pelaksana: Melany N.T., Dewi K. Megawati
Bank Account: BCA Cab. Malang No. 011.1658225 a.n. Melany E. Simon
Yang menjadi alasan bagi wanita untuk memilih kehidupan lajang :
Sikap yang biasanya muncul pada diri wanita lajang ketika harus menghadapi sikap masyarakat atau keluarga, memang bermacam-macam.
Yang bisa dilakukan untuk mengisi kebutuhan emosionalnya adalah
Filipi 4 : 11 dan 12, “Sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan, aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan, dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku.” Ayat 13, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”
Jadi kita perlu menerima keadaan kita :
Yang pertama, jangan sampai kita merasa ada masalah dengan status lajang kita, tidak apa-apa lajang ini adalah bagian hidup yang Tuhan berikan kepada kita sampai saat ini, inilah porsi yang Tuhan telah tetapkan terimalah tanpa harus ada merasa bersalah.
Yang kedua, adalah kita mesti belajar mencukupi, sebab memang kehidupan lajang mempunyai minus dan plusnya, tidak bersungut-sungut menyalahkan siapa-siapa, atau menyalahkan Tuhan tapi belajarlah mencukupi yang kurang itu.
Oleh Ibu Esther Tjahja, S. Psi. & Pdr. Dr. Netty Lintang
Catatan : Audio dan transkrip bisa didapat melalui situs Telaga dengan kode T69 A [2]
Tanya?
Syalom Pak, saya seorang wanita 33 tahun dan akan berencana menikah dalam waktu dekat. Calon suami saya berumur 35 tahun, bekerja di perusahaan garmen dan memunyai jam kerja yang fleksibel karena tiap hari harus kunjungan ke supplier dan lain-lain.
Kelak, setelah manikah saya diundang tinggal bersama dengan Mama mertua, alasannya :
Kondisi di rumah calon pasangan saya saat ini :
Pak, saya dan calon suami dididik dengan ‘lifestyle’ yang sangat berbeda. Saya dari keluarga yang mengajarkan harus MANDIRI, jangan suka merepotkan orang selama masih bisa dikerjakan sendiri, selalu meng-‘handle’ segala sesuatu itu sendiri dan kami sekeluarga saling mengasihi. Calon suami berasal dari keluarga yang mengajarkan harus saling tolong menolong dan membaur selalu.
Pemandangan yang selalu saya lihat, Mama, Kakak, Adik dan keponakan dari calon suami saya apabila selesai makan, piring pun mereka taruh tanpa mencucinya, mainan anak-anak berserakan.
Tiap hari tugas mencuci piring, wajan, ngepel, mengurus rumah berantakan karena keponakan main, semuanya dilakukan calon suami saya karena Mama mertua selalu merasa terlalu lelah (calon suami saya sangat mengasihi keluarga dan tiap hari selalu berkorban waktu buat mereka).
Kami pernah membicarakan masalah ini, bahkan sering bertengkar bukan karena masalah kami berdua tapi selalu masalah kakak, adik dan iparnya. Tapi calon suami saya selalu mengatakan dia akan mengatur segalanya dengan baik setelah kami menikah.
Yang mau saya tanyakan :
Jawab!
Terima kasih sudah bersedia menulis surat kepada kami. Kami akan mencoba menjawab surat Anda.
Kemungkinan besar Anda akan mengalami kesulitan yang serius dalam beradaptasi dengan lingkungan calon suami yang penuh hiruk-pikuk. Persoalannya bukan karena suasana hiruk-pikuknya saja, tetapi kebiasaan calon suami yang tentu tidak mudah diubah. Usaha untuk mengubah akan semakin berat, selain hal itu sudah menjadi kebiasaan calon suami selama bertahun-tahun, Anda akan menghadapi banyak pihak yang menentang perubahan itu. Pihak pertama yang sangat menentang tentu akan datang dari calon ibu mertua karena beliau yang akan sangat kehilangan orang yang selama ini meringankan pekerjaannya.
Tidak ada salahnya kami mengingatkan Anda bahwa sudah bukan rahasia lagi bahwa hubungan antara ibu mertua dengan menantu perempuan biasanya kurang harmonis, menegangkan dan bahkan mencekam. Dan ini biasanya menjadi pemicu timbulnya konflik curiga sehingga cepat berkesimpulan bahwa menantu perempuannya adalah seorang perempuan yang “bodoh, malas, tidak tahu masak, tidak tahu melayani suami, mau enak sendiri, tidak tahu berterima kasih, manja” dan lain-lain. Lebih-lebih kalau ibu mertua itu kemudian membicarakannya kepada anak-anaknya dan para tetangga. Ini akan sangat menyakitkan dan menjengkelkan. Sebaliknya, menantu perempuan menganggap ibu mertua yang bersikap seperti itu sebagai ibu yang “jahat, cerewet, sok mau ngatur, bawel, judes” dll. Mengapa konflik antara ibu mertua dengan menantu perempuan paling banyak terjadi? Penyebabnya sangat masuk akal. Pertama, keduanya sama-sama perempuan. Tanpa disadari antara kedua “perempuan” yaitu ibu mertua dan menantu perempuan ini terjadi persaingan dalam memperebutkan perhatian dari seorang “laki-laki”. Coba Anda bayangkan, sudah lebih dari tiga puluh tahun ibu mertua Anda membesarkan calon suami Anda dengan segala pengorbanan, sekarang sudah menjadi suami seseorang. Di satu sisi ibu mertua Anda bersyukur bahwa anak laki-lakinya telah memunyai seorang istri, tetapi di sisi lain ada perasaan cemburu. Ibu mertua Anda takut “kehilangan” anak laki-lakinya. Demikian juga Anda, sebagai istri tentu ingin perhatian utama suami adalah pada diri Anda.
Pihak kedua yang menentang tentu dari keluarga kakak adik calon suami Anda karena kenyamanannya terganggu. Kehadiran Anda membuat mereka kehilangan “tenaga gratis” yang selama ini meringankan pekerjaan mereka. Pertanyaan Anda, “apakah kelak setelah menikah saya bisa bermurah hati membantu tugas suami” kami pikir hanya Anda yang tahu. Tetapi dari tulisan Anda, besar kemungkinan Anda tidak akan mampu membantu tugas suami mengurus keperluan keluar besarnya. Kalau hal ini tidak dapat diselesaikan dengan baik akan menimbulkan konflik yang berkepanjangan. Anda mungkin akan dibenci oleh keluarga besarnya karena kehadiran Anda telah merampas kenyamanan dan kebahagiaan mereka. Sebab besar kemungkinan bahwa kehadiran Anda nantinya sebagai ipar dan menantu perempuan justru sangat diharapkan untuk dapat membantu melestarikan “tradisi” mereka yang sudah berlangsung bertahun-tahun itu.
Sebagai pertimbangan, mungkin sebaiknya Anda membicarakan masalah ini lebih serius lagi tanpa harus bertengkar. Dua sikap penting yang bisa digunakan dalam membicarakan masalah Anda yaitu sikap empati dan “toleransi”. Empati adalah sikap yang rela merasakan apa yang dirasakan oleh calon suami Anda, mengerti apa yang dimengerti oleh calon suami Anda, melihat apa yang dilihat oleh calon suami Anda dan berpikir seperti yang dipikirkan oleh calon suami Anda. Coba pikirkan kalau Anda berada di posisi calon suami dan ibu mertua Anda. Kalau Anda bisa menempatkan diri pada perasaan pihak calon suami, ini akan menolong Anda untuk lebih berhati-hati, menahan diri, suasana hati lebih tenang dan dapat berpikir lebih jernih.
Sikap selanjutnya adalah sikap toleransi. Sikap toleransi artinya membiarkan atau tidak memaksakan kehendak Anda ketika calon suami Anda belum dapat melaksanakan perbuatan-perbuatan yang Anda harapkan. Sekali lagi, tidak mudah mengubah kebiasaan-kebiasaan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Bukan hanya Anda yang akan menghadapi tantangan, calon suami Anda juga menghadapi tantangan dari berbagai pihak yang kami sebutkan di atas. Sikap toleransi menghindarkan Anda dari tindakan memaksa, menekan dan mengancam yang justru akan membuat Anda frustrasi. Apalagi kalau ternyata calon suami Anda lebih berpihak pada keluarga besarnya ketimbang menuruti permintaan Anda. Dengan sikap empati dan toleransi akan menolong calon suami Anda berpikir dan bertindak untuk mengatasi persoalannya. Selanjutkan dukung suami Anda agar bisa memunyai rumah sendiri sehingga tidak terlalu lama tinggal serumah dengan mertua.
Links
[1] http://www.telaga.org
[2] http://telaga.org/audio/kehidupan_lajang_dari_perspektif_wanita
[3] https://m.telaga.org/jenis_bahan/berita_telaga
[4] https://m.telaga.org/kode_kaset/t069a